Aku tak tahan lagi untuk tidak menulis cerita ini, sebab aku ingin bercerita, tapi rasanya kok sungkan untuk menuturkannya pada manusia.
Aku betah di sini, udaranya segar, langitnya bersih, adem, dan banyak bintang, tak lupa, langit yang tak terhalang atap rumah.
Tapi, hanya dongeng yang menyajikan alur tanpa cacat. Di sini, aku dilatih untuk terus menjaga diri, dan lebih dari itu, aku tak punya perlindungan apa-apa.
Kalau boleh dibilang, aku sudah pernah berkawan dengan orang semacam ini, tapi kali ini lain, aku bukan hanya berkawan, tapi terpakasa menerimanya sebagai keluarga.
Aku tidak benci mereka, justeru ini mungkin adalah tes bagiku, setidaknya.
Semesta tengah membuangku, jauh, terdampar di tengah manusia pemabuk, dan haus seks. Bayangkan, tiap malam mereka mabuk, dan sekali dua kali memanggil perempuan, entah itu dibayr atau tidak, yang jelas, tujuan ada perempuan itu, tidak lain untuk melayani mereka.
Kalau dulu, aku bisa saja beralih teman, berlih tongkrongan, sedang di sini aku lah yang harus beradaptasi.
"Duduk dulu, sedikit aja" Kata mereka. Kehabusa alasan, dan tak bisa pergi lagi, aku akhirnya duduk. Ku ambil asbak yang kosong. Tiing, suat gelas yang diadu, lembut. Diam-diam, aku tuang isi gelas itu ke asbak, lalu ku tutupi asbak igu dengan buku. Hingga 4 kali, kemudian asbak itu penuh. "Gila, lu kuat banget" Kata temanku yang sudah naik, sudah aneh matanya, dan nada bicaranya lain. Aku hanya senyum. "Lagi!" Tak ada wadah lain, terpaksa perut ku yang menjadi wadah. Seketika aku mengingat temanku yang dulu melakukan ini di depanku, ketika aku masih penasaran dengan rasanya, dengan efeknya, dengan tubuhku sesudahnya.
Aku sudah cukup tua untuk ini, pikirku.
Aku bukan yang menolak apapun itu tentang alkohol, bahkan aku pernah berpikir aku akan meminumnya bersama suamiku, kelak. Di tenpat kerja ku yang lama, seusai acara yang terus terusan selama seminggu, kami semua stress, baiknya, acara berlangsung lancar. Aku masih ingat, kami sampai harus pulang pukul 2 pagi, kembali ke kantor pukul 7, terbayang seberapa tertekan waktu itu ?. Gak heran, ketika acara selesai, salah satu dari temanku berinisiatif membeli bintang. Dan menurutku, itu setimpal.
Tapi, malam ini, semua org ini hanya tak punya kerjaan lain, menghambur-hamburkan uang, dan mengikuti nafsu mereka.
Sejauh ini, tak ada reaksi apapun, kecuali perut yang panas. Aku pergi membuang air yg ada di asbak, berharap bisa mengisinya lagi.
Hujan turun dengan derasnya, menahan aku lebih lama di sini, aku tak henti-hentinya memohon berhenti. "Masa lu gak pernah ngentot si Bel? Wkwk!" Obrolan macam apa ini, pikirku. Kaget, ketika temanku berseloroh. "Buat apa ? Elu sih laki enak, gue cewe" Kali ini, nada bicaraku betulan aneh. "Terus elu pernah ngapain kalo pacaran?" Wanita di seberangku, akhirnya buka suara. "Ini pada kepo bgt sih! Gue aja pacaran 3 thn yg laku, lupa gue!" Yang itu, aku benar-benar keceplosan. Seisi ruangn yg isinya 7 termasuk aku, ketawa terbahak-bahak. Setelah itu, entah apalagi yabg mereka tertawakan.
Aku akhirnya tidur, bersama perempuan. Ketika sampai kamar, aku cuci muka, dan bersih beesih, langsung tidur, tanpa ganti pakaian. Aku masih ingat, aku mengenakan blus, dan levis.
Tiba-tiba aku terbangun, entah karena apa. Remang-remang aku melihat temanku di sebelah kiri, sedang pelukan dengan laki-laki! SEJAK KAPAN ?
Aku langsung mebalikan badan, dan entah kenapa juga, langsung tidur, seakan tak terusik.
Siang hari aku baru tersadar. Teman wanita ku itu ada, tapi laki-laki yang aku tak liat wajahnya sudah hilang. "Semalem siapa dah?" Tanyaku. "Cowo gue, abisnya dingin sih"
Sialan, gerutu dalam hati.
Aku masih ingat betapa aku mengidam-idamkan kost sendiri, tinggal sendiri. Tak kubayangkan, segini aku pegang kendali. Kalau aja, kesempatan ini hadir setahun yang lalu, saat aku belum bisa mengendalikan diriku, alam bawah sadarku, dan yang terpenting nafsuku.
Terimakasih, atas asbak yang tersedia.
Aku betah di sini, udaranya segar, langitnya bersih, adem, dan banyak bintang, tak lupa, langit yang tak terhalang atap rumah.
Tapi, hanya dongeng yang menyajikan alur tanpa cacat. Di sini, aku dilatih untuk terus menjaga diri, dan lebih dari itu, aku tak punya perlindungan apa-apa.
Kalau boleh dibilang, aku sudah pernah berkawan dengan orang semacam ini, tapi kali ini lain, aku bukan hanya berkawan, tapi terpakasa menerimanya sebagai keluarga.
Aku tidak benci mereka, justeru ini mungkin adalah tes bagiku, setidaknya.
Semesta tengah membuangku, jauh, terdampar di tengah manusia pemabuk, dan haus seks. Bayangkan, tiap malam mereka mabuk, dan sekali dua kali memanggil perempuan, entah itu dibayr atau tidak, yang jelas, tujuan ada perempuan itu, tidak lain untuk melayani mereka.
Kalau dulu, aku bisa saja beralih teman, berlih tongkrongan, sedang di sini aku lah yang harus beradaptasi.
"Duduk dulu, sedikit aja" Kata mereka. Kehabusa alasan, dan tak bisa pergi lagi, aku akhirnya duduk. Ku ambil asbak yang kosong. Tiing, suat gelas yang diadu, lembut. Diam-diam, aku tuang isi gelas itu ke asbak, lalu ku tutupi asbak igu dengan buku. Hingga 4 kali, kemudian asbak itu penuh. "Gila, lu kuat banget" Kata temanku yang sudah naik, sudah aneh matanya, dan nada bicaranya lain. Aku hanya senyum. "Lagi!" Tak ada wadah lain, terpaksa perut ku yang menjadi wadah. Seketika aku mengingat temanku yang dulu melakukan ini di depanku, ketika aku masih penasaran dengan rasanya, dengan efeknya, dengan tubuhku sesudahnya.
Aku sudah cukup tua untuk ini, pikirku.
Aku bukan yang menolak apapun itu tentang alkohol, bahkan aku pernah berpikir aku akan meminumnya bersama suamiku, kelak. Di tenpat kerja ku yang lama, seusai acara yang terus terusan selama seminggu, kami semua stress, baiknya, acara berlangsung lancar. Aku masih ingat, kami sampai harus pulang pukul 2 pagi, kembali ke kantor pukul 7, terbayang seberapa tertekan waktu itu ?. Gak heran, ketika acara selesai, salah satu dari temanku berinisiatif membeli bintang. Dan menurutku, itu setimpal.
Tapi, malam ini, semua org ini hanya tak punya kerjaan lain, menghambur-hamburkan uang, dan mengikuti nafsu mereka.
Sejauh ini, tak ada reaksi apapun, kecuali perut yang panas. Aku pergi membuang air yg ada di asbak, berharap bisa mengisinya lagi.
Hujan turun dengan derasnya, menahan aku lebih lama di sini, aku tak henti-hentinya memohon berhenti. "Masa lu gak pernah ngentot si Bel? Wkwk!" Obrolan macam apa ini, pikirku. Kaget, ketika temanku berseloroh. "Buat apa ? Elu sih laki enak, gue cewe" Kali ini, nada bicaraku betulan aneh. "Terus elu pernah ngapain kalo pacaran?" Wanita di seberangku, akhirnya buka suara. "Ini pada kepo bgt sih! Gue aja pacaran 3 thn yg laku, lupa gue!" Yang itu, aku benar-benar keceplosan. Seisi ruangn yg isinya 7 termasuk aku, ketawa terbahak-bahak. Setelah itu, entah apalagi yabg mereka tertawakan.
Aku akhirnya tidur, bersama perempuan. Ketika sampai kamar, aku cuci muka, dan bersih beesih, langsung tidur, tanpa ganti pakaian. Aku masih ingat, aku mengenakan blus, dan levis.
Tiba-tiba aku terbangun, entah karena apa. Remang-remang aku melihat temanku di sebelah kiri, sedang pelukan dengan laki-laki! SEJAK KAPAN ?
Aku langsung mebalikan badan, dan entah kenapa juga, langsung tidur, seakan tak terusik.
Siang hari aku baru tersadar. Teman wanita ku itu ada, tapi laki-laki yang aku tak liat wajahnya sudah hilang. "Semalem siapa dah?" Tanyaku. "Cowo gue, abisnya dingin sih"
Sialan, gerutu dalam hati.
Aku masih ingat betapa aku mengidam-idamkan kost sendiri, tinggal sendiri. Tak kubayangkan, segini aku pegang kendali. Kalau aja, kesempatan ini hadir setahun yang lalu, saat aku belum bisa mengendalikan diriku, alam bawah sadarku, dan yang terpenting nafsuku.
Terimakasih, atas asbak yang tersedia.
Komentar
Posting Komentar