Aku tak tahan lagi untuk tidak menulis cerita ini, sebab aku ingin bercerita, tapi rasanya kok sungkan untuk menuturkannya pada manusia. Aku betah di sini, udaranya segar, langitnya bersih, adem, dan banyak bintang, tak lupa, langit yang tak terhalang atap rumah. Tapi, hanya dongeng yang menyajikan alur tanpa cacat. Di sini, aku dilatih untuk terus menjaga diri, dan lebih dari itu, aku tak punya perlindungan apa-apa. Kalau boleh dibilang, aku sudah pernah berkawan dengan orang semacam ini, tapi kali ini lain, aku bukan hanya berkawan, tapi terpakasa menerimanya sebagai keluarga. Aku tidak benci mereka, justeru ini mungkin adalah tes bagiku, setidaknya. Semesta tengah membuangku, jauh, terdampar di tengah manusia pemabuk, dan haus seks. Bayangkan, tiap malam mereka mabuk, dan sekali dua kali memanggil perempuan, entah itu dibayr atau tidak, yang jelas, tujuan ada perempuan itu, tidak lain untuk melayani mereka. Kalau dulu, aku bisa saja beralih teman, berlih tongkrongan, sedang d...