Postingan

Menampilkan postingan dari Maret, 2019

Sebuah pertanyan

Sampai kapan ? Sampai kapan asbak melindungiku ? Sampai kapan pintu kamar membatasi ? Sampai kapan earphone membuatku tuli ? Sampai kapan aku sanggup terus berpura-pura ? Sampai kapan ? Sampai kapan aku sanggup berkata tidak terus menerus ? Sampai kapan aku menolak lagi dan lagi Sampai kapan aku terus berada dalam lingkaran yang membuatku mundur ? Sampai kapan ? Sampai kapan kah kata menyerah itu sampai di sini ?
AKU RINDU AKU RINDU AKU RINDU AKU RINDU AKU RINDU AKU RINDU AKU RINDU AKU RINDU AKU TULIS AKU RINDU SAMPAI AKU BOSAN KALAU AKU RINDU TAPI AKU TETAP SAJA RINDU SIAL OBAT RINDU MEMANG HANYA TEMU SIALNYA AKU SUDAH BERJANJI UNTUK TIDAK MENCARIMU.
Aku tak tahan lagi untuk tidak menulis cerita ini, sebab aku ingin bercerita, tapi rasanya kok sungkan untuk menuturkannya pada manusia. Aku betah di sini, udaranya segar, langitnya bersih, adem, dan banyak bintang, tak lupa, langit yang tak terhalang atap rumah. Tapi, hanya dongeng yang menyajikan alur tanpa cacat. Di sini, aku dilatih untuk terus menjaga diri, dan lebih dari itu, aku tak punya perlindungan apa-apa. Kalau boleh dibilang, aku sudah pernah berkawan dengan orang semacam ini, tapi kali ini lain, aku bukan hanya berkawan, tapi terpakasa menerimanya sebagai keluarga. Aku tidak benci mereka, justeru ini mungkin adalah tes bagiku, setidaknya. Semesta tengah membuangku, jauh, terdampar di tengah manusia pemabuk, dan haus seks. Bayangkan, tiap malam mereka mabuk, dan sekali dua kali memanggil perempuan, entah itu dibayr atau tidak, yang jelas, tujuan ada perempuan itu, tidak lain untuk melayani mereka. Kalau dulu, aku bisa saja beralih teman, berlih tongkrongan, sedang d...

Cara bahagia

Definisi bersyukur adalah merasa cukup dengan yang kita miliki,  tak banyak mengeluh. Seperti Minggu sore kemarin,  saat membeli cilok kesukaanku,  aku melihat sosok ayah, ibu,  juga dua anaknya, tengah asyik menikmati cilok sambil bercanda.  Si ibu dan ayah berpakaian biasa namun jelas sekali,  itu bukan pakaian sehari-hari,  si anak mengenakan pakaian rapih,  memakai celana panjang dan jaket. Mereka lahap memakan cilok,  kecuali si ibu yang sibuk mendinginkan cilok anaknya,  sambil menyeruput kuah cilok,  ya,  si ibu tidak memakan cilok itu.  Tanggal muda,  saat banyak sekali di antara kita berburu diskon,  menghabiskan waktu di mall,  keluar kota,  berlibur bersama keluarga.  Beginilah cara mereka berbahagia. 
Untuk  kamu, yang mengenalku jauh sebelum ini. Jangan ke sini, tak perlu mencari ku,  sebab Belinda yang dulu memang hilang kemana tau. 
Terimakasih telah melihatku sebagai manusia,  perempuan,  dan bukan barang simpanan atau vagina berjalan.  Terimakasih telah mau membaca tulisanku di sini. Aku akan terus menulis,  sebab menuis adalah kebahagiaan dan kesedihan yang menyaru. 
Sendiri di keramaian segera menjadi akrab denganku.  Pohon nangka di halaman tiba-tiba berbuah. Langit biru menjadi abu. Tanah kering perlahan subur.  Waktu kian pupus.  Usia bertambah satu.  Perubahan adalah kita.  Sebab fana milik semua. 
Tak ada guna bersembunyi,  sebab tak ada pula yang mencari. 

Marco - Polo

Sejenak setelah selesai berfoto,  salah satu kawan menulis caption,  "Keluarga baruku" Aku membacanya sambil menahan tetes air mata.  Keluarga... Apa aku punya? Sementara orang mudah sekali menganggap beberapa orang menjadi keluarga,  apa aku bisa? Ada haru dan sedikit canggung di hati saat aku pulang ke rumah,  kakakku sudah berkumpul dengan keluarganya,  mamaku sudah bertemu dengan suaminya,  yang artinya menggantikan bapak,  tapi bapakku saja adalah tanda tanya yang menghantuiku,  ibu bagiku abu-abu. Apa benar yang ini,  apa benar yang itu. Ah hidup,  mengapa kau lucu? Pandai sekali bermain Marcopolo. 

Thank you, next.

Terimakasih telah bersikap baik kepadaku,  terimakasih telah menjadi teman, terimakasih waktu yang pernah kita habiskan. Aku sempat berpikir kau tulus,  berbeda dari yang sudah-sudah. Tapi nyatanya,  kau pergi juga. Bukannya aku sudah pernah bilang,  aku tak ingin lagi membangun kisah asmara murahan,  yang pastinya kandas dengan cepat. Entah takut,  atau memang sudah bosan,  aku bosan jatuh cinta dengan pria yang salah,  aku bosan patah hati untuk manusia bodoh,  aku tak ingin lagi membuang waktu. . Kau juga mungkin lupa, bahwa aku pernah meminta bahkan ku sebut dalam tiap doa,  bahwa aku tak ingin lagi,  menjalani kisah cinta yang sia-sia.  Kau sungguh bukan sembarang pria,  kau baik,  tapi maaf,  sekali lagi, mungkin aku memang terlalu takut. Temui wanita lain, dan berbagialah¡