Postingan

Menampilkan postingan dari Oktober, 2018

Slap

Nyatanya aku memang suka bekerja, aku suka sibuk, aku suka pulang dengan keadaan capek, sehingga aku langsung membanting diriku di Kasur, tidak perlu basa-basi.  Oh para pemodal, capital, perbudak saja orang satu ini, dia butuh orang yang tidak menyakitinya, beri dia pekerjaan yang banyak, yang bertumpuk sampai otaknya penuh dengan kerjaan, dengan tugasnya, sampai dia stress bukan karena orang di sekitarnya, tapi karena tugas yang menumpuk.

Semua orang bahu membahu untuk menghancurkanku.

Sesasat setelah hari ku usai, aku menyadari betapa aku payah, aku kacau, aku gila. Dan aku sendiri. Aku tidak yakin bisa menceritakan bagian aib dari kehidupanku, tapi sangat menyakitkan untuk  menyimpannya di dalam diri. Rasanya seperti kau berjalan dengan duri tajam yang menancap di telapak kakimu, kau tak bisa mencabutnya, juga harus tetap berjalan.  Aku menangis, teriak sekencang-kencangnya di dalam bantal. Aku muak. Aku sungguh tidak sekuat itu. . . Aku kehilangan 1kesempatan ku untuk tiba di kampus, aku kehilangan kewarasanku. Aku tidak sekuat itu. Mama sering mendapati mataku sembab, lalu bertanya kenapa menangis, haha, Sesungguhnya tidak ada yang mengerti dan tidak ada yang mau. Semua sama saja Menganggap diriku adalah boneka Barbie yang bisa dibanting kesana kemari, dan tetap tidak papa, hanya rambutnya rontok, kakiknya copot dan ya . Aku hancur di dalam. Semua orang bahu membahu untuk menghancurkanku.
Welcome To My Hell, Satan!

D

Bulan lalu, aku mulai bekerja di sebuah tempat yang sangat kukagumi semasa SMK, aku sangat menikmati kerja di sini, walaupun, ada banyak tekanan, bosku perfeksionis, dan dia berperut buncit haha. Menyebalkan, sekaligus menjadi cambuk bagi aku yang sangat teledor. Gedung kantorku mempunyai 3 lantai, sedangkan ruangan kerjaku berada di lantai 1. jam kerja mulai dari jam 9 sampai 8 malam, jam kerja yang Panjang bukan ? Aku biasanya dating lebih pagi dari itu, karena aku harus berangkat Bersama kakak iparku, dia masuk pukul 8, jadilah aku selalu yang terpagi diantara yang lain.  Ada satu orang yang datang lebih pagi dariku, seorang analyst, pria memakai kacamata. Tadinya aku tidak mengenalnya dengan baik, karena kami menekuni hal yang berbeda, juga tidak ada proyek yang harus dikerjakan Bersama. Sampai suatu hari, kami saling sapa dan memulai obrolan. Aku mulai tau kalau dia ternayata mempunyai camera, senang jalan-jalan dan menyukai kopi. Sial, obrolan hari itu membawaku mem...

Masa

Aku hanya punya 7 hari dalam seminggu, sama seperti kalian. 24 Jam perhari, sama seperti kalian. Aku bekerja 6 hari dalam seminggu, tersisa1 hari untuk menuntut ilmu. Aku berangkat pukul 6 pagi,kembali kerumah bisa jam 10 malam. Bagaimana aku mempunyai waktu untuk hal receh lain, jangankan main, makan saja sering terlewat, makan malam terselip kantuk, pagi diburu waktu siang terhimpit kerja. Aku bahkan pangling melihat keponakanku sendiri, tiba-tiba sudah setinggi tanaman pucuk merah di depan rumah.  Aku tak punya waktu untuk kisah cinta klise, yang berakhir hati sakit, mata merah. Aku tak lagi bebas, bisa terbang ke sana ke mari, mengoceh dimana-mana. Aku kikuk.  Aku lain Belinda yang dulu telah mati.