Postingan

Menampilkan postingan dari September, 2018

Aku yang salah

Pernahkah sesuatu yang buruk terjadi, dan tidak ada orang yang pantas disalahkan kecuali dirimu ? Kau yang terlampau bodoh, kau yang terlampau egois. Aku sedang di dalam kondisi itu, aku sangat-sangat bingung, sangat bingung, aku tidak tau kata apa yang bisa menjabarkan rasa ini. Ketersesatan yang tidak berkesudahan. Aku yang salah. Aku yang salah. Salah. Pernahkah kau ada di posisi percuma, percuma kau ada, percuma kau di sini. Untuk apa kau hidup ? Pernahkah kau rasanya ingin berteriak di kuping seseorang sekaligus ingin bersujud sedalam-dalamnya pada orang itu ? Pernahkah kau terlampau malu untuk mengatakan aku yang salah, cambuk aku saja asal sudahi semua ini. Semesta begitu hebat menarik ulur, membuang, memungut, menjadikan kita debu yang congak sekaligus miskin. Aku yang salah. Aku.

Putri Anyelir

Aku tak tau apa kau membaca buku itu atau tidak, yang jelas aku membacanya, dan hampir hafal alurnya, aku mau bercerita jika kau menginginkannya. Aku tadi ke tempat itu, tempat yang pernah kita duduk berdua, selama beberapa menit, eh salah, kita tidak berdua, bangku itu panjang sekali, ada banyak orang yang menyenderkan bahu di sana, salah satunya kita. Kita diam saja waktu itu, memandangi orang yang berlalu lalang, aku lupa kita sempat bicara atau tidak. Aku di sana, duduk dan diam saja, hanya ingin diam, menikmati ingatan tentang masa itu. Teman, aku ingin menyapamu, bercerita panjang lebar tentang aku yang gagal, aku yang berhasil, aku yang bingung, aku yang tidak benar-benar sendiri di rumah karena ada satu tikus besar, aku yang lapar, aku yang kekenyangan sampai tolol. Kau tau ? Aku jadi suka dengan anyelir, karena ketika aku baca buku itu, besoknya sebuah anyelir tanpa nama terpajang di vas bunga. Yang kelak ku tau ternyata adalah dari seseorang untuk temanku. Iya, ka...
Apa nih yang spesial ?, katamu sambil memegang kertas menu. "Hari ini, kamu" tentu saja dalam hati. Mampang, Januari 2018.

Ada apa

Ada apa ?, katamu. Tidak ada apa-apa, aku hanya ingin berbicara padamu lewat kata-kata ini, sambil membayangkan kau mengatakannya padaku, di depan meja ini, dengan secangkir milikmu juga. Atau mengatakannya padaku, di sebuah tempat dengan pohon yang banyak, seperti kesukaanmu. Tidakb ada apa-apa, aku hanya ingin berbicara denganmu. Aku harus bagaimana ? Agar bagimu itu adalah apa-apa. Sehingga aku bisa berbicara denganmu. Jangan tanya kabar, aku akan katakan baik, dan kamu harus balas apa nanti ? Aku tak ingin membuatmu pusing memelihara topik, mengembangbiakannya, aku ingin itu kita. Yang memeliharanya, membuatnya terjaga di antara kita. Akankah kau ?
9 September dan masih hidup. Terima kasih Allah, terima kasih teman-temanku yang begitu peduli. Aku tau teman, kau tak mungkin membaca ini, tapi izinkan aku meninggalkan jejak, agar kelak aku tak ceroboh melupakan jasamu. Menurutmu kecil memang, tapi itu sangat berarti untukku. Sungguh rumah ini bukanlah rumah yang sesungguhnya, dan aku adalah kesunyian yang menjelma manusia di siang hari. Kau yang mengetuk pintu di pagi hari, dan kau yang membuka kunci di malam buta. Terima kasih.