Putri Anyelir
Aku tak tau apa kau membaca buku itu atau tidak, yang jelas aku membacanya, dan hampir hafal alurnya, aku mau bercerita jika kau menginginkannya.
Aku tadi ke tempat itu, tempat yang pernah kita duduk berdua, selama beberapa menit, eh salah, kita tidak berdua, bangku itu panjang sekali, ada banyak orang yang menyenderkan bahu di sana, salah satunya kita. Kita diam saja waktu itu, memandangi orang yang berlalu lalang, aku lupa kita sempat bicara atau tidak.
Aku di sana, duduk dan diam saja, hanya ingin diam, menikmati ingatan tentang masa itu.
Teman, aku ingin menyapamu, bercerita panjang lebar tentang aku yang gagal, aku yang berhasil, aku yang bingung, aku yang tidak benar-benar sendiri di rumah karena ada satu tikus besar, aku yang lapar, aku yang kekenyangan sampai tolol.
Kau tau ? Aku jadi suka dengan anyelir, karena ketika aku baca buku itu, besoknya sebuah anyelir tanpa nama terpajang di vas bunga. Yang kelak ku tau ternyata adalah dari seseorang untuk temanku. Iya, kau tau pasti, aku tidak suka tangkai bunga, aku suka bunga yang benar-benar tumbuh di halaman rumahku, yang aku rawat sendiri.
Aku membuat sebuah kisah, ada nama putri anyelir di sana. Hanya sebagai tanda aku mengingatmu ketika membuat cerita itu.
Salam rindu, teman.
Rindu.
Komentar
Posting Komentar