Postingan

Menampilkan postingan dari 2018

Mata Rantai, TIM

Kalau kata Fiera, takdir adalah serangkaian kebetulan, aku sedikit percaya. Pasalnya, malam ini ada banyak kebetulan yang terangkai, menghantarkan senyum indah di wajahku. Sore tadi, aku harus bertemu seseorang dan menandatangani sebuah dokumen, tempatnya hanya beberapa meter dari Ke:Kini. Selepas maghrib. Akupun bersiap pulang, aku lari kecil mengejar temanku yang membawa mobil, berharap bisa nebeng sampai stasiun Cikini hehe. "Aku mau nebeng ke stasiun Gondangdia dong" seruku. "Ah,kita gak lewat sana". "Oh oke, makasih ya".  Aku akhirnya berjalan kaki menuju stasiun, bersama seorang teman. Kami melewati Taman Ismail Marzuki. "Kayaknya ada acara deh, mau belok dulu ?". Tanyaku dengan kaki yang sudah terlebih dahulu serong ke kiri. "Ngapain ? Bayar ga ?" "Aku ada teman di sini, udh lama bgt gak ketemu, semoga dia ada". Kami berjalan sekitar satu menit, lalu terperangah oleh lukisan di dinding luar bangunan planetarium. T...

Slap

Nyatanya aku memang suka bekerja, aku suka sibuk, aku suka pulang dengan keadaan capek, sehingga aku langsung membanting diriku di Kasur, tidak perlu basa-basi.  Oh para pemodal, capital, perbudak saja orang satu ini, dia butuh orang yang tidak menyakitinya, beri dia pekerjaan yang banyak, yang bertumpuk sampai otaknya penuh dengan kerjaan, dengan tugasnya, sampai dia stress bukan karena orang di sekitarnya, tapi karena tugas yang menumpuk.

Semua orang bahu membahu untuk menghancurkanku.

Sesasat setelah hari ku usai, aku menyadari betapa aku payah, aku kacau, aku gila. Dan aku sendiri. Aku tidak yakin bisa menceritakan bagian aib dari kehidupanku, tapi sangat menyakitkan untuk  menyimpannya di dalam diri. Rasanya seperti kau berjalan dengan duri tajam yang menancap di telapak kakimu, kau tak bisa mencabutnya, juga harus tetap berjalan.  Aku menangis, teriak sekencang-kencangnya di dalam bantal. Aku muak. Aku sungguh tidak sekuat itu. . . Aku kehilangan 1kesempatan ku untuk tiba di kampus, aku kehilangan kewarasanku. Aku tidak sekuat itu. Mama sering mendapati mataku sembab, lalu bertanya kenapa menangis, haha, Sesungguhnya tidak ada yang mengerti dan tidak ada yang mau. Semua sama saja Menganggap diriku adalah boneka Barbie yang bisa dibanting kesana kemari, dan tetap tidak papa, hanya rambutnya rontok, kakiknya copot dan ya . Aku hancur di dalam. Semua orang bahu membahu untuk menghancurkanku.
Welcome To My Hell, Satan!

D

Bulan lalu, aku mulai bekerja di sebuah tempat yang sangat kukagumi semasa SMK, aku sangat menikmati kerja di sini, walaupun, ada banyak tekanan, bosku perfeksionis, dan dia berperut buncit haha. Menyebalkan, sekaligus menjadi cambuk bagi aku yang sangat teledor. Gedung kantorku mempunyai 3 lantai, sedangkan ruangan kerjaku berada di lantai 1. jam kerja mulai dari jam 9 sampai 8 malam, jam kerja yang Panjang bukan ? Aku biasanya dating lebih pagi dari itu, karena aku harus berangkat Bersama kakak iparku, dia masuk pukul 8, jadilah aku selalu yang terpagi diantara yang lain.  Ada satu orang yang datang lebih pagi dariku, seorang analyst, pria memakai kacamata. Tadinya aku tidak mengenalnya dengan baik, karena kami menekuni hal yang berbeda, juga tidak ada proyek yang harus dikerjakan Bersama. Sampai suatu hari, kami saling sapa dan memulai obrolan. Aku mulai tau kalau dia ternayata mempunyai camera, senang jalan-jalan dan menyukai kopi. Sial, obrolan hari itu membawaku mem...

Masa

Aku hanya punya 7 hari dalam seminggu, sama seperti kalian. 24 Jam perhari, sama seperti kalian. Aku bekerja 6 hari dalam seminggu, tersisa1 hari untuk menuntut ilmu. Aku berangkat pukul 6 pagi,kembali kerumah bisa jam 10 malam. Bagaimana aku mempunyai waktu untuk hal receh lain, jangankan main, makan saja sering terlewat, makan malam terselip kantuk, pagi diburu waktu siang terhimpit kerja. Aku bahkan pangling melihat keponakanku sendiri, tiba-tiba sudah setinggi tanaman pucuk merah di depan rumah.  Aku tak punya waktu untuk kisah cinta klise, yang berakhir hati sakit, mata merah. Aku tak lagi bebas, bisa terbang ke sana ke mari, mengoceh dimana-mana. Aku kikuk.  Aku lain Belinda yang dulu telah mati.

Aku yang salah

Pernahkah sesuatu yang buruk terjadi, dan tidak ada orang yang pantas disalahkan kecuali dirimu ? Kau yang terlampau bodoh, kau yang terlampau egois. Aku sedang di dalam kondisi itu, aku sangat-sangat bingung, sangat bingung, aku tidak tau kata apa yang bisa menjabarkan rasa ini. Ketersesatan yang tidak berkesudahan. Aku yang salah. Aku yang salah. Salah. Pernahkah kau ada di posisi percuma, percuma kau ada, percuma kau di sini. Untuk apa kau hidup ? Pernahkah kau rasanya ingin berteriak di kuping seseorang sekaligus ingin bersujud sedalam-dalamnya pada orang itu ? Pernahkah kau terlampau malu untuk mengatakan aku yang salah, cambuk aku saja asal sudahi semua ini. Semesta begitu hebat menarik ulur, membuang, memungut, menjadikan kita debu yang congak sekaligus miskin. Aku yang salah. Aku.

Putri Anyelir

Aku tak tau apa kau membaca buku itu atau tidak, yang jelas aku membacanya, dan hampir hafal alurnya, aku mau bercerita jika kau menginginkannya. Aku tadi ke tempat itu, tempat yang pernah kita duduk berdua, selama beberapa menit, eh salah, kita tidak berdua, bangku itu panjang sekali, ada banyak orang yang menyenderkan bahu di sana, salah satunya kita. Kita diam saja waktu itu, memandangi orang yang berlalu lalang, aku lupa kita sempat bicara atau tidak. Aku di sana, duduk dan diam saja, hanya ingin diam, menikmati ingatan tentang masa itu. Teman, aku ingin menyapamu, bercerita panjang lebar tentang aku yang gagal, aku yang berhasil, aku yang bingung, aku yang tidak benar-benar sendiri di rumah karena ada satu tikus besar, aku yang lapar, aku yang kekenyangan sampai tolol. Kau tau ? Aku jadi suka dengan anyelir, karena ketika aku baca buku itu, besoknya sebuah anyelir tanpa nama terpajang di vas bunga. Yang kelak ku tau ternyata adalah dari seseorang untuk temanku. Iya, ka...
Apa nih yang spesial ?, katamu sambil memegang kertas menu. "Hari ini, kamu" tentu saja dalam hati. Mampang, Januari 2018.

Ada apa

Ada apa ?, katamu. Tidak ada apa-apa, aku hanya ingin berbicara padamu lewat kata-kata ini, sambil membayangkan kau mengatakannya padaku, di depan meja ini, dengan secangkir milikmu juga. Atau mengatakannya padaku, di sebuah tempat dengan pohon yang banyak, seperti kesukaanmu. Tidakb ada apa-apa, aku hanya ingin berbicara denganmu. Aku harus bagaimana ? Agar bagimu itu adalah apa-apa. Sehingga aku bisa berbicara denganmu. Jangan tanya kabar, aku akan katakan baik, dan kamu harus balas apa nanti ? Aku tak ingin membuatmu pusing memelihara topik, mengembangbiakannya, aku ingin itu kita. Yang memeliharanya, membuatnya terjaga di antara kita. Akankah kau ?
9 September dan masih hidup. Terima kasih Allah, terima kasih teman-temanku yang begitu peduli. Aku tau teman, kau tak mungkin membaca ini, tapi izinkan aku meninggalkan jejak, agar kelak aku tak ceroboh melupakan jasamu. Menurutmu kecil memang, tapi itu sangat berarti untukku. Sungguh rumah ini bukanlah rumah yang sesungguhnya, dan aku adalah kesunyian yang menjelma manusia di siang hari. Kau yang mengetuk pintu di pagi hari, dan kau yang membuka kunci di malam buta. Terima kasih.
Sebutkan aku 3 alasan atau 5 atau sebanyak-banyaknya, untuk hidup!

05.58

Bagaimana rasanya jadi nama yang diteriaki dalam bantal yang menyumpal suara ? Bagaimana rasanya jadi yang ditunggu dalam waktu gelap semalaman ? Bagaimana rasanya jadi pemicu badai salju di kepala ? Bagaimana rasanya jadi alasan untuk sebuah tulisan yang kurilis pagi ini ? Bagaimana rasanya jadi kamu ? Pengendara.
Hari ini aneh, aku menjadi tempat curhat dari 2 orang temanku yang putus pacaran, yang satu karena si cowok selingkuh, yang lain karena masalah yang tidak jelas, kebosanan adalah kemungkinan terbesar. Kau tau ? Salah satu alasan aku tidak lagi pacaran adalah kekerasan, bukan tampol tampolan atau gampar gitu, tapi kekerasan psikis, dimana terkadang aku harus meminta maaf atas alasan yang pacarku buat, misalnya kita sudah janji akan ketemu di hari Sabtu di tempat yang telah ditentukan. Lalu ketika aku sudah sampai, tiba-tiba pacarku membatalkan secara sepihak. Aku marah, dan jadilah cekcok, pacarku bilang "kamu gak ngertiin aku blablabla" Akhirnya aku yang minta maaf "iya maafin aku udah marah2". Atau lain kasus, aku harus menahan amarah, saat pacarku ketahuan chatting dengan perempuan lain, dan isi chattingnya adalah janjian untuk menonton di bioskop. Aku marah, lalu besoknya pacarku datang membawa makanan kesukaan, seolah gak apa-apa. Seolah dia udah ngejelasi...

Kemana hilangnya ?

Aku kehilangan hatiku. Aku kehilangan mataku, aku kehilanga rasaku. Lidahku kehilangan sensornya, semua makanan adalah pahit. Kulitku mengeras menjadi duri, semua yang kusentuh adalah aspal panas. Aku kehilangan diriku, semua yang kau tahu tentangku adalah bukan aku. Aku mati dalam diri. Aku telah hilang. Cari aku dalam benak hatimu. Selamat mencari, semoga kau menemukannya.

Diri

Nyatanya, gadis jelek, bodoh, miskin, tidak berbakat pemalas, itu adalah kata yang tepat menggambarkan diriku. Tak ada yg pantas menyukaiku. I have no friend. Hate my self.

Kesedihan

Tidakkah ini kasat mata ? Atau aku memang berusaha menutupinya.  Apakah ini tak kasat mata ? Atau aku yang terlalu berharap dirangkul olehmu. Aku tak ingin bicara. Kemarilah, berikan aku pundak kirimu Bersandarlah pada sofa ini, sebab aku tak ingin bicara.

Ganjil

Kita akan selalu ganjil, bagaimanapun cara untuk melengkapinya. Kita akan selalu kurang , sekeras apapun usaha untuk menutupinya. Kita adalah pilihan, dan memang begitu adanya. Kita akan selalu ganjil, ma. 

Bawa aku

Aku ingin pergi ke tempat di mana semua orang berjalan kaki Aku ingin tinggal di tempat yang lapang, di mana anak kita bebas bermain bola tanpa harus menjadi member Aku ingin tinggal di rumah dengan tetangga yang saling berkunjung Tolong, bawa aku. Jangan biarkan aku diterkam pikiran beku semalaman.

Kata

Tak ada kata-kata, mereka binasa diterpa nestapa, sungguh pelik ini semakin tidak masuk akal, seperti tidak berkesudahan dan bahkan belum mencapai klimaks. Aku sudah lelah, tapi jalan ceritaku nyatanya masih berlanjut. Pagi ke senja malam ke siang, nyatanya pahit itu semakin kental, seperti penyakit yang belum ditemukan penawarnya. Aku sungguh ringkih.  Tidakkah ini segera membaik ?
Isn't It ironic. . . We ignore those who adore us, Adore those who ignore us, Hurt those who love us, and Love those who hurt us. Hooman.
Tahun ke 19. 

Belinda masih Jomblo,serius ?

Jomblo jomblo dan jomblo. Mungkin ini menjadi salah satu identitas gue saat ini, dimana gue akan dateng ke undangan teman tanpa pasangan, menjenguk teman tanpa pasangan, dan pasti bermalam minggu tanpa pasangan, bahkan malam minggu itu menurut gue mitos :b Di tempat kerja gue yang lama ( Kedai Jatam ) gue kerja Senin - Jumat, yang artinya gue harus bertemu Sabtu malam. Jujur, itu membuat gue bingung, karena teman2 so pasti jalan sama pasangannya masing2, jalanan macet dan kalo gue di rumah, gue jadi bahan gosipan anak2 smp depan gang gue, yang kalo ngeliatin dari ujung jidat sampe ujung bayangan, kalo pake lipstik super duper merah membara, kausnya kurang bahan, celananya ketat abies, terus yang cowonya duduk di atas motor, pake baju 420, celana levis, pake topi biar lebih kece, taq lupa bawa roko, tapi gapunya korek. Kalo gue ke warung depan gang, maka segerombolan anak muda unfaedah ini akan ngeliatin gue, se mu a nya, ini mungkin ya, kemunculan gue di depan mereka itu udah d...
Apa yang salah dari perempuan milenial yang tidak menginginkan pacaran  ? Salah ? Aku hanya belum paham, apa yang dicari dari hubungan yang dinamakan pacaran, mau saling kenal saja kok harus pacaran ? -Pacaran itu satu tahap sebelum menikah. Apa yang menjamin hubungan pacaran mengantarkan aku ke pelaminan ? Lagipula mengapa masih banyak kasus perceraian kalau pacaran sebagai pengantar.

The Untold.

Muka lelah, tangan menghitam, dan setiap eluhan di malam hari. Orang asing tapi tidak benar-benar asing, Bingung Gundah Lelah Asing Minta Diminta Tangis Sepi Bandung Jogja Kuliah Saudara Asing Hutang Waktu Transjakarta Malas Uang Hidup Ibadah Aku memikirkan banyak hal, tapi sedikit menulisnya. Sangat banyak, penuh sesak di kepala. Meledak! Meledak! Pecah dan porak poranda lah! Tidak kah kau lihat aku sudah terlalu ringkih ? Oh pundak, pundak lelah pundak lunglai! Tak kuat kah dirimu ? Mata, mata yang tak berkedip, nanar dan menerawang, jauh! Apa yang kau pikirkan manis ? Apa yang kau tonton itu ? Oh air, air mata yang mengucur deras di malam yang pagi. Apa yang membuatmu bekerja, wahai air mata ? Tidak kah hidup melelahkan, wahai tubuh. Bersabarlah, berdayalah, bergunalah