Mata Rantai, TIM
Kalau kata Fiera, takdir adalah serangkaian kebetulan, aku sedikit percaya. Pasalnya, malam ini ada banyak kebetulan yang terangkai, menghantarkan senyum indah di wajahku. Sore tadi, aku harus bertemu seseorang dan menandatangani sebuah dokumen, tempatnya hanya beberapa meter dari Ke:Kini. Selepas maghrib. Akupun bersiap pulang, aku lari kecil mengejar temanku yang membawa mobil, berharap bisa nebeng sampai stasiun Cikini hehe.
"Aku mau nebeng ke stasiun Gondangdia dong" seruku. "Ah,kita gak lewat sana". "Oh oke, makasih ya".
Aku akhirnya berjalan kaki menuju stasiun, bersama seorang teman. Kami melewati Taman Ismail Marzuki. "Kayaknya ada acara deh, mau belok dulu ?". Tanyaku dengan kaki yang sudah terlebih dahulu serong ke kiri. "Ngapain ? Bayar ga ?" "Aku ada teman di sini, udh lama bgt gak ketemu, semoga dia ada". Kami berjalan sekitar satu menit, lalu terperangah oleh lukisan di dinding luar bangunan planetarium. Takjub. Aku berhenti untuk memandangi lukisan itu. "Eh toilet di mana? Duh ini tempat apa sih?" "Hah? Serius gak tau tmpt ini pak ? Planetarium, Taman Ismail Marzuki, bisa belajar planet2, juga banyak komunitas seni gitu di sini". "Yaudah, toilet mana ?" Katanya terburu. Temanku itu langsung berlari ketika ada tanda petunjuk toilet di seberang.
Sementara mataku sibuk mencari tanda-tanda keberadaan teman lama ku. Aku yakin dia ada. Aku berjalan, menikmati keramaian ini, keramaian yang entah kenapa, aku seperti merindukannya. Sangat rindu. Aku seperti orang yang disambut hangat oleh sahabatnya di stasiun kereta, seperti ditunggu kehadirannya. Hangat, hampir mirpi suasana tiba di kampung halaman. Aku memeluk suasana itu, menyoroti apapun yang mataku tangkap. Aku yakin, aku tidak pernah tidak tersenyum di sana. Ada banyak orang, dan aku memperhatikan semuanya, satu demi satu, rambut, wajah, cara berpakaian, tato, dan semua benda yang menempel dibadan orang-orang itu. Semuanya asing, tapi juga terasa akrab. Aku benar-benar tersenyum gembira. Aku rindu.
"Ibu, Apa kabaar? Tambah cantik! Masih inget aku ?". Kataku pada wanita penjual pernak-pernik batu. "Masih dong! Sama siapa ? Sendirian ?" Matanya mengelilingi aku, juga sekelilingku. "Ama teman, lagi ke toilet orangnya". "Ayo ke sana, lapakku di sana" aku kemudian berjalan berdampingan dengannya. Dari jarak 4 meter, aku melihat seorang laki-laki berambut gondrong, 70% badanya bermotif, dia hanya mengenakan kaos oblong dan celana loreng panjang, aku seribu persen yakin, dia orang yang kucari. "Baaaang! Gimanaa kabaarnya?" Aku mungkin sedikit berteriak, tak tahan dengan semua rasa yang dicerna inderaku. "Wah aku baru pulang dari Amerika, ini bawaanku, baru saja tiba" Aku tertawa dan refleks mengeluarkan sekantung biji kopi Mandailing terbaikku. "Ini buat diseduh bang" "Wah oke" langsung memasukkan ke dalam tasnya. "Mana temanmu ?". Aku celingukan mencari teman yang sedari tadi bersamaku, sebelum akhirnya kita berpisah. "Nah itu dia!" "Wah, teman ? Aku restui haha!" Bang Abi belum tau kalau temanku ini sudah punya isteri dan anak, tampangnya yang masih muda memang banyak yang salah mengartikan ketika kami sedang kebetulan bersama.
"Bang, aku keliling ya ( entah kenapa, aku kangen, aku kangen suasana ramai tapi tidak sesak seperti ini, semua asing, tapi juga akrab)" Sebetulnya, aku bisa saja mengatakan hal yang di dalam kurung, tapi aku urung mengutarakannya.
Aku bagai kupu yang hinggap di semua bunga di dalam satu kebun, semuanya aku lihat, aku rasa, aku membeli beberapa barang, padahal aku tau, aku tidak akan memakainya dalam waktu dekat, benda itu aku beli hanya untuk aku pandangi di atas kasur sepulang dari tempat ini.
Temanku tadi, ternyata bertemu dengan temannya juga, penyeduh atau barang kali pemilik gerobak kopi ini pula, aku berkenalan dan dia langsung memintaku mencicipi es pelakor, signature gue, katanya.
Mereka mengobrol banyak hal, sementara aku asik bermesraan dengan suasana ini, dengan orang-orang yang saling tatap, saling bicara, aura tempat ini, sangat bahagia. Aku juga bahagia bisa menjadi bagian dari atmosfer ini.
Kau tau kan rutinitas hariku yang aku sudah tak sanggup lagi menjalaninya, kebahagiaan sesederhana menyapa kawan lama adalah kemewahan bagiku.
Aku bersyukur aku harus ke Cikini, aku bersyukur aku salah sebut nama stasiun, aku menyebut nama stasiun Gondangdia saat akan menumpang temanku, kalau saja lidahku tidak terpeleset, aku akan ikut mobil itu, karena satu-satunya jalur keluar melewati stasiun Cikini. Kalau saja aku tidak punya ide untuk belok ke Taman Ismail Marzuki. Kalau saja temanku menolak. Aku tidak punya malam yang seromantis ini.
Pada serangkaian kebetulan, aku percaya itu mata rantai.
Komentar
Posting Komentar