Postingan

Kenapa aku jarang menulis ?

Hai, catatan hidup usang, dan kamu yang membacanya. Apa kabar? Aku sudah lama sekai tidak menulis di sini atau di mana pun. Mungkin karena aku memang malas, atau aku punya alasan lain.  Awal mulanya blog ini dibuat hanya untuk waktu senggang saja, sekadar menyalurkan hobi, lalu, tiba-tiba saja, aku merasa selalu sendiri di dunia ini, seperti anak hilang, atau memang ? Tadinya aku hanya menulis asal di sini, apa saja yang sedang aku geluti di dunia nyata biasanya tersirat di tiap postingannya. Kadang menggembirakan, mengherankan atau bahkan memalukan. Aku lalu menuliskan hal-hal yang tak bisa ku ceritakan kepada siapapun, menuliskannya dengan hiperbola, metafor, atau terang-terangan. Aku mengetik di laptop sambil menangis sesenggukan, mengasihi diri sendiri. Sangat nyaman dalam kesendirian dan kesedihan di kamar tidur, aku lalu menamai blog ini “Diarih”,  diriku yang perih, tempat di mana aku menuliskan segala kehidupanku, tidak segala sih, bagian sedih sedihnya saja, dan aku m...

Masih adakah aku ?

Ah kau yang menghilang Suka kau dicari-cari aku ? Suka kau tak melihat kabar-kabar ? Atau masih ? Suka kau di sana? Dimanapun itu. Aku cari kau sejak dalam ingatan Meraba-raba di kolong memori Mungkin ada satu dua waktu Dimana kau tak ada salah keliru. Ah kau Menulis lagi aku karena kau Kau yang tidak lagi menanyakan kabar Kau yang tidak lagi mencari ku malam-malam Masih sering kau menangis di sana? Masih sering kau memikirkan segala? Ah kau Kau yang kujumpai karyanya Tapi tidak penulisnya Kau yang kubaca tulisannya Tapi tak jumpa wujudnya Ah kau  Lupa kau padaku? Mungkin iya mungkin tidak tapi tidak itu kemungkinan kecil Ah kau Muncul dari  mana lagi kau nanti ? Diam-diam kau mencariku kan? 3 4 hari kau pasti akan menulis lagi Lalu aku akan membacanya lagi Hingga kau menulis yang lain Dan aku kau temui Kemudian kita saling hidup menghidupi Dalam kata yang tak tau mana punyaku mana punyamu Ah kau Masih adakah aku ?

Sebuah pertanyan

Sampai kapan ? Sampai kapan asbak melindungiku ? Sampai kapan pintu kamar membatasi ? Sampai kapan earphone membuatku tuli ? Sampai kapan aku sanggup terus berpura-pura ? Sampai kapan ? Sampai kapan aku sanggup berkata tidak terus menerus ? Sampai kapan aku menolak lagi dan lagi Sampai kapan aku terus berada dalam lingkaran yang membuatku mundur ? Sampai kapan ? Sampai kapan kah kata menyerah itu sampai di sini ?
AKU RINDU AKU RINDU AKU RINDU AKU RINDU AKU RINDU AKU RINDU AKU RINDU AKU RINDU AKU TULIS AKU RINDU SAMPAI AKU BOSAN KALAU AKU RINDU TAPI AKU TETAP SAJA RINDU SIAL OBAT RINDU MEMANG HANYA TEMU SIALNYA AKU SUDAH BERJANJI UNTUK TIDAK MENCARIMU.
Aku tak tahan lagi untuk tidak menulis cerita ini, sebab aku ingin bercerita, tapi rasanya kok sungkan untuk menuturkannya pada manusia. Aku betah di sini, udaranya segar, langitnya bersih, adem, dan banyak bintang, tak lupa, langit yang tak terhalang atap rumah. Tapi, hanya dongeng yang menyajikan alur tanpa cacat. Di sini, aku dilatih untuk terus menjaga diri, dan lebih dari itu, aku tak punya perlindungan apa-apa. Kalau boleh dibilang, aku sudah pernah berkawan dengan orang semacam ini, tapi kali ini lain, aku bukan hanya berkawan, tapi terpakasa menerimanya sebagai keluarga. Aku tidak benci mereka, justeru ini mungkin adalah tes bagiku, setidaknya. Semesta tengah membuangku, jauh, terdampar di tengah manusia pemabuk, dan haus seks. Bayangkan, tiap malam mereka mabuk, dan sekali dua kali memanggil perempuan, entah itu dibayr atau tidak, yang jelas, tujuan ada perempuan itu, tidak lain untuk melayani mereka. Kalau dulu, aku bisa saja beralih teman, berlih tongkrongan, sedang d...

Cara bahagia

Definisi bersyukur adalah merasa cukup dengan yang kita miliki,  tak banyak mengeluh. Seperti Minggu sore kemarin,  saat membeli cilok kesukaanku,  aku melihat sosok ayah, ibu,  juga dua anaknya, tengah asyik menikmati cilok sambil bercanda.  Si ibu dan ayah berpakaian biasa namun jelas sekali,  itu bukan pakaian sehari-hari,  si anak mengenakan pakaian rapih,  memakai celana panjang dan jaket. Mereka lahap memakan cilok,  kecuali si ibu yang sibuk mendinginkan cilok anaknya,  sambil menyeruput kuah cilok,  ya,  si ibu tidak memakan cilok itu.  Tanggal muda,  saat banyak sekali di antara kita berburu diskon,  menghabiskan waktu di mall,  keluar kota,  berlibur bersama keluarga.  Beginilah cara mereka berbahagia. 
Untuk  kamu, yang mengenalku jauh sebelum ini. Jangan ke sini, tak perlu mencari ku,  sebab Belinda yang dulu memang hilang kemana tau.