Kenapa aku jarang menulis ?

Hai, catatan hidup usang, dan kamu yang membacanya. Apa kabar? Aku sudah lama sekai tidak menulis di sini atau di mana pun. Mungkin karena aku memang malas, atau aku punya alasan lain. 


Awal mulanya blog ini dibuat hanya untuk waktu senggang saja, sekadar menyalurkan hobi, lalu, tiba-tiba saja, aku merasa selalu sendiri di dunia ini, seperti anak hilang, atau memang ?


Tadinya aku hanya menulis asal di sini, apa saja yang sedang aku geluti di dunia nyata biasanya tersirat di tiap postingannya. Kadang menggembirakan, mengherankan atau bahkan memalukan. Aku lalu menuliskan hal-hal yang tak bisa ku ceritakan kepada siapapun, menuliskannya dengan hiperbola, metafor, atau terang-terangan. Aku mengetik di laptop sambil menangis sesenggukan, mengasihi diri sendiri.


Sangat nyaman dalam kesendirian dan kesedihan di kamar tidur, aku lalu menamai blog ini “Diarih”,  diriku yang perih, tempat di mana aku menuliskan segala kehidupanku, tidak segala sih, bagian sedih sedihnya saja, dan aku menjadi sangat mahir dalam hal itu, aku sampai membuat puisi atau apa itu namanya yang kau baca dengan nada mendayu dan penuh penghayatan.

Singkat cerita.


Aku menarik diriku ke dalam keterpurukan, dan aku menjadi sinis, pesimis, pahit, getir. Sudut pandangku adalah sudut pandang gelap dan penuh kesedihan, coba saja baca beberapa halaman di sini.

Kalau sampai di sini kamu masih belum mengerti, aku bisa menerjemahkannya. Bayangkan pernyataan ini, “Aku hidup untuk berjuang”, “Hidupku adalah kutukan”, “Ah aku begitu sedih sampai ingin mati”. Pernyataan itu kurang lebih adalah apa yang aku tulis, begitu sinis, pesimis terhadap masa depan, pahit, seperti tidak ada kebahagiaan, seperti aku tidak layak bahagia.


Sekarang ketika ada masalah, atau aku merasa begitu sedih, aku paling hanya menangis lalu tertidur, esoknya aku berpikir bagaimana masalah itu terselesaikan, mencari tahu apa yang harus aku perbaiki, dan kalau diubah menjadi kalimat mungkin seperti ini, “Apa aku bisa lebih baik?” ,”Kalau itu gagal, pasti yang kali ini berhasil”,  “Hidup itu pilihan”, “Aku begitu sedih samapai ingin ice cream”. Bagaimana ? Jauh berbeda bukan ?

Aku masih suka menulis, tapi sayangnya aku masih terbawa dengan gaya tulisanku yang dulu, yang sedih-sedih itu, dan aku masih mencari referensi gaya tulisan yang baru, yang penuh optimisme dan ceria.  


Semoga aku segera bisa rajin menulis lagi, dengan gaya yang lebih baik pemikiran yang lebih matang dan semoga tulisan aku juga bisa bermanfaat bagi kalian, makasih, sampai jumpa dilain waktu.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Menulis

Hari ke 40

Kesedihan