Postingan

Menampilkan postingan dari Agustus, 2016

puisi tema indonesia indah indonesia kaya

INDONESIA INDAH INDONESIA KAYA Belinda angraini 8 Pada gelap yang dikaruniai beribu peri Pada buih kopi yang terbiasa mencumbu sepi Pada malam yang menginjak pagi Pada tanda Tanya yang tersusun rapih Tidak ada yang lebih membunuh esokj Dari badai seisi hati Renik-renik mengalir hitram Tak jua sisakan spasi Adakah yang lebih buruk Dari sepatah kata terlambat? Kasih.. Percayakah kau pada reinkarnasi ? Aku inhin sekali percaya Serta selipkan satu dua pinta Aku tak ingin lagi menjadi manusia Lebih baik aku menjadi tuna di lautan Terjaring nelayan dan mati untuk sang puan Lebih baik aku   menjadi padi Dipanen dengan senang hati Lalu mengisi perut si miskin Indonesia Negeri indah tanah surga Ikan melayang bebas di laut Burung bercengkrama liar di cakrawala Siapa lagi yang ragukan kekayaan Indonnesia… Aku meragu! Tidaklah satu tempat dikatakan surga Jika manusianya neraka Tak tahu balas budi Takkan satu nege...

puisi tema keragaman adalah kekayaan bangsa

PELANGI PERTIWI oleh : belinda angraini 8 Pada senja yang kutunggu Di suatu sore di sunda kelapa Pada kapal-kapal yang bersandar malas Di satu sore di teluk Jakarta Ada kesal yang membuncah Dari rasa letih yang berulah Dari rasa penat yang diasingkan seharian Juga lapar dan dahaga yang terabaikan Sore itu… Aku berjalan menisir semenanjung Berharap bertemu senja yang agung Berharap seandainya langit Mau menurunkan sedikit sayapnya Biar aku bias menjenguk bias-bias keemasan yang megah Hening yang akmal Dari dawai yang paling merdu Aku ingin bercengkrama pada cakrawala Pada biru yang bersetubuh pada senja Lalu bercerita tentang secangkir sejarah batavia Namun aku salah menunggu Bukan jingga merah atau biru Melainkan langit kelabu yang menyapa dengan lugu Gerimis mempercepat kelam Juga kepak elang yang menyinggung muram Bodoh memang Seharusnya aku bertanya Susah saatnyakah ketimbang apa yang lamat-lamat aku nikmati...

air mata yang tumpah bersama senja

ketika aku menulis ini lampu jalan masih menyala tak terima siraman cahaya mentari... seperti aku yang tak terima jabatan tangan kosong kemarin.. aku kira aku sudah berusaha semampu mata ini melihat semampu tangan ini meraba dua malam aku cipta puisi tak main-main  memang karna yang aku harap adalah menang seduhan kopi yang tak pernah jenuh temani suntuk buatku semangat menyusun jiwa aksara di malam hari imajiku menerobos lembar demi lembar bukuku mengalir deras hingga jemariku harus berpacu dengan waktu danketika subuh menyambangi pintu kamarku melihatku sedang tergeletak di pojok kamar dengan wajah yang tak pernah ramah pada pagi aku rasa aku sudah hampir siap merebut gelar aku siap sesiap mentari menyinari pagi deru klakson dan  mobil yang salip menyalip harusnya menjadi pemandangan yang biasa tapi tidak pagi ini semua ini akan menjadi saksi atas kelahiran juara baru cipta baca puisi satu persatu nama pemenang diseru tapi tidak de...