air mata yang tumpah bersama senja
ketika aku menulis ini
lampu jalan masih menyala
tak terima siraman cahaya
mentari...
seperti aku
yang tak terima
jabatan tangan kosong
kemarin..
aku kira aku sudah berusaha
semampu mata ini melihat
semampu tangan ini meraba
dua malam aku cipta puisi
tak main-main memang
karna yang aku harap
adalah menang
seduhan kopi yang tak pernah jenuh
temani suntuk
buatku semangat menyusun jiwa aksara
di malam hari imajiku
menerobos lembar demi lembar bukuku
mengalir deras hingga jemariku
harus berpacu dengan waktu
danketika subuh menyambangi pintu kamarku
melihatku sedang tergeletak
di pojok kamar
dengan wajah yang tak pernah ramah pada pagi
aku rasa aku sudah hampir siap merebut gelar
aku siap sesiap mentari
menyinari pagi
deru klakson dan mobil
yang salip menyalip
harusnya menjadi pemandangan yang biasa
tapi tidak pagi ini
semua ini akan menjadi saksi
atas kelahiran juara baru
cipta baca puisi
satu persatu nama pemenang diseru
tapi tidak dengan namaku
sesak!
aku seperti ditampar sekeras-kerasnya
hingga merah lebam
biru bernanah
bengkaknya berhari-hari masih terasa
ada bom waktu di dalam dada
yang siap meledak
mataku berkaca-kaca
penglihatanku tak karuan
bukan aku yang mereka inginkan
bukan aku!
hingga jabat tangan kosong mendarat di tanganku
berkata dengan kalimat klasik
aku tak pernah sungguh-sungguh mendengarkan mereka
akalku tengah tak waras
aku hanya ingin berteriak
ku ingin bingar!
sore hari
ada perjalanan yang menjemukan
dan senja yang menggoda
aku berteriak sejadinya
aku menangis terisak
aku tak pernah seacuh ini pada senja
aku tak pernah sebungkam ini
aku tak peduli kalau akusedang di pinggir jalan
di saksikan mereka yang berlalu lalang
sekali lagi aku ingin bingar
usai sudah
terimaksih untuk dua hari yang singkat
untuk ampas kopi yang ku ambangkan
untuk kertas yang penuh guratan
untuk senja yang bertumpah air mata
terimakasih
lampu jalan masih menyala
tak terima siraman cahaya
mentari...
seperti aku
yang tak terima
jabatan tangan kosong
kemarin..
aku kira aku sudah berusaha
semampu mata ini melihat
semampu tangan ini meraba
dua malam aku cipta puisi
tak main-main memang
karna yang aku harap
adalah menang
seduhan kopi yang tak pernah jenuh
temani suntuk
buatku semangat menyusun jiwa aksara
di malam hari imajiku
menerobos lembar demi lembar bukuku
mengalir deras hingga jemariku
harus berpacu dengan waktu
danketika subuh menyambangi pintu kamarku
melihatku sedang tergeletak
di pojok kamar
dengan wajah yang tak pernah ramah pada pagi
aku rasa aku sudah hampir siap merebut gelar
aku siap sesiap mentari
menyinari pagi
deru klakson dan mobil
yang salip menyalip
harusnya menjadi pemandangan yang biasa
tapi tidak pagi ini
semua ini akan menjadi saksi
atas kelahiran juara baru
cipta baca puisi
satu persatu nama pemenang diseru
tapi tidak dengan namaku
sesak!
aku seperti ditampar sekeras-kerasnya
hingga merah lebam
biru bernanah
bengkaknya berhari-hari masih terasa
ada bom waktu di dalam dada
yang siap meledak
mataku berkaca-kaca
penglihatanku tak karuan
bukan aku yang mereka inginkan
bukan aku!
hingga jabat tangan kosong mendarat di tanganku
berkata dengan kalimat klasik
aku tak pernah sungguh-sungguh mendengarkan mereka
akalku tengah tak waras
aku hanya ingin berteriak
ku ingin bingar!
sore hari
ada perjalanan yang menjemukan
dan senja yang menggoda
aku berteriak sejadinya
aku menangis terisak
aku tak pernah seacuh ini pada senja
aku tak pernah sebungkam ini
aku tak peduli kalau akusedang di pinggir jalan
di saksikan mereka yang berlalu lalang
sekali lagi aku ingin bingar
usai sudah
terimaksih untuk dua hari yang singkat
untuk ampas kopi yang ku ambangkan
untuk kertas yang penuh guratan
untuk senja yang bertumpah air mata
terimakasih
Komentar
Posting Komentar