selamat jalan pria kata





Izinkan kuteguk habis kopiku dulu, biar yang tersisa hanya ampas yang ku ambangkan begitu saja. Gugur sudah air mata yang selama ini aku tahan kuat-kuat. Runtuh sudah pertahananku, hancur luluh lantah rata dengan tanah. Biarlah habis air mata pada malam yang bertabur bintang. Biar esokku cerah kembali seperti hari saat musim semi. Berkali-kali ku usap mata ini.

Pedih rasa saat mata tak  fokus melihat karna dipenuhi peluh yang bergelimang namun tak kunjung jatuh dan menggenang. Sesak rasa saat relung berisi butiran salju, berat dan beku. Sulit sekali bernafas dalam selingan tangis yang mengisak.

Untuk kesekian kali, aku jatuh pada pada jurang cinta yang begitu dalam. Sangat dalam, bahkan cahaya mentari tak bisa menerobos celah tebingnya. Aku pincang, langkahku terseok. Aku buta dalam kegelapan. Sanggupkah aku bertahan dalam jurang yang gelapnya membutakan, dengan langkah kaki yang tidak pernah lagi sempurna?

Paralis, mengapa begitu tiba-tiba kau meninggalkan ku sendiri? Menjalani hari yang jahatnya tak terperi. Takkan aku se tegar aku yang bersamamu. Takkan aku seriang aku yang di sampingmu. Kau satu dari sekian pria yang kutemui. Namun kamu adalah kamu. Takkan pernah aku mengenal yang sepertimu lagi.

Sesak!!!! Sekuat hati aku tahan air mata ini, tetap saja jatuh seraya menyebut namamu. Berkali-kali ketikan ini terhenti, lalu ku sambung lagi dengan jemari yang sudah basah akan air lara hati. Hampir saja aku teriak, melampiaskan sesak .

Paralis aku tau kau akan membaca ini, tapi rasamu dan rasaku kini sudah tak sama lagi. aku masih dalam rasa yang sama sedang kau?. Sungguh, aku sulit sekali bernafas, bahkan jemariku meraba setiap huruf yang disentuhnya. Mataku sudah tidak bisa melihat apa-apa selain butir-butiran air yang terus berguguran.

Padahal aku masih ingin membagi sukaku bersamamu. Padahal aku ingin mendekapmu seperti rembulan di bulan februari. Ah paralis, seandainya kau masih disini memelukku. Ketahuilah paralis, aku tak pernah lagi melihat kelip bintang dilangit. Karna setiap kali ku tadahkan wajah ini kelangit, hanya kamu yang terlihat di seantero langit.

Apa hal yang membuatmu berpaling. Semoga itu adalah cita-cita yang kau gantung, atau wanita yang cantik paras juga rupanya.

Terkadang, aku berfikir mengapa harus aku bermuram durja, sedang kau berlenggang di bawah senja yang meraja. Megapa harus aku tersedu sedang kau bersenandung merdu. Satu jawabku, kau adalah hasrat yang membuatku hidup, dengan aku dan kamu membuat diriku yang utuh. Namun aku adalah yang tersisihkan, yang kau ambangkan sama seperti ampas kopiku malam ini. Tak terhindarkan derap kecewa yag berhamburan, bukan aku yang kau impikan di masa depan.

Fajar fajar terbitlah! Bawalah aku pada larut siang yang menyibukkan. Biar aku bercengkrama pada sesama manuisa. Bawalah aku melangkah susuri dunia, hingga ku temukan. Seseorang seperti dirinya, walau tak separas tak sejiwa. Setidaknya cukup tuk sembuhkan luka.

Tapi bagaimana mungkin aku mengacuhkan senja yang eloknya terus menggoda. Bagaimana mungkin aku aku melupakanmu sedang kau menjajah fikirku.

Selamat jalan pria kata, selamat jalan kenangan yang terbawa. Selamat jalan separuh jiwa.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Menulis

Hari ke 40

Kesedihan