catatan pelik

Pernahkah kau rasa sangat ingin meninggalkan dunia. Atau pergi kehutan dan hidup sejahtera bersama hewan buas. Hidup memang melelahkan. Tapi ini berbeda. Ini sakit. Aku hidup di kerumunan manusia tapi aku benar benar sendiri. Terpuruk. Mati. Aku lelah bercengkrama pada senja di keramaian kota. Aku benar benar berdiri sendiri. Bahkan tuhan seolah jijik untuk melihatku apalagi mendengar curhatanku.
Pernahkah kau merasa salah dilahirkan atas dirimu? Aku sama sekali tidak membenci mereka. Tidak. Aku membenci diriku sendiri. Tak berguna. Maklumlah mereka sangar menghardik diriku. Aku asing dan menyusahkan. Benalu. Sungguh aku tak sanggup menyandandang gelar benalu rumah tangga. Cobalah kau resapi. Aku sendiri dalam lingkup keluarga harmonis. Sanggupkah kau menghancurkan setiap alur irama harmonisasinya? Sering ku bertanya pada bias lampu di permukaan sungai hening. Mengapa dan untuk apa aku dilahirkan? Bahkan kelahirankun pun tidak diinginkan indukku. mengapa harus aku dilahirkan dalam kehidupan dengan momok menyedihkan? Apakah hidupku adalah karma? Atau aku adalah reinkarnasi dari wujud perampok bengis sehingga seluruh hidupku adalah kutukan?
Mengapa tuhan seolah dendam kepada tapak kaki mungil ku ? Kemanapun aku melangkah selalu saja problema pelik yang menerpa dengan ganasnya. Mengapa tidak aku dikutuk menjadi kerbau dungu yang hidupnya berguna bagi pak tani.
Hari ini aku malu bukan main. Airmataku tak terperi. Dan gugur dengan derasnya. Aku tak ingin terlihat lemah didepan teman sejawat. Aku bosan dengan hujaman pertanyaan mereka. Seandainya kau tau aku lelah bercerita dengan orang asing. Mereka seolah peduli dengan ku. "Ceritakan saja padaku, mungkin aku bisa bantu" kata mutiara terbusuk! Ribuan kali ku dengar itu dalam sepanjang hidup. Seolah kau bisa mengerti segala permasalahan hayatku lalu menghiburku dan membuatku tersenyum sumringah lalu meninggalkan aku yang sudah biasa pada hadirnya. Lalu dia buntungkan kaki ini sehingga aku pun terpincang pincang. Haha aku sudah hafal alur itu. Hafal benar.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Menulis

Hari ke 40

Kesedihan