puisi teruntuk bapak berdasi
Pagi ini aku tersentak-dibuat meledak isi dadaku-hijauku
menghilang-pepohonan itu tercabik
Matilah jiwa ku
Matilah seluruh inspirasi alam-matilah imajiku
Aku bukan penyair
jadul menyindir parlemen lewat puisi
aku hanya terlalu kecewa
kehilangan yang mendalam
habislah sudah
pantaslah kota ini begitu aktif bergerak-tapi pasif
pemikiran
jangan salahkan penduduk yang tidak produktif, berkacalah
kau menggilas sumbernya
bahkan dasar negara ini lahir dibawah teduhnya pohon
rindang
robot bernyawa
begitu miris aku mendengarnya
jangan salahkan anak muda berhura-hura
lahannya kau ganti dengan pusat perbelanjaan dan cafetaria
menangisku tak akan merubah keadaan
aku terkoyak melihat sumber imajiku merata merah bata
kau kemanakan hijaunya si putrimalu
kau kemanakan burung gereja yang bernyanyi di dahan cery
gedung apa yang ingin kau bangun diatas sumber imajiku
tak kan imajiku tumbuh lagi
jika langitnya kau tutupi dan kesuburannya kau timpa
maklumlah negri ini kosong inspirasi
kemanakah kupu kupu itu mengungsi?
Beritahulah aku!
Akan ku ikuti biar imajiku menari
Hai para penguasa berdasi
Andaikan aku berorasi
Berteriak dibundarah HI
Terketuk kah kau?
Haruskah aku pergi kekota sebelah
Hanya demi menikmati senja dipucuk pohon cery
Haruskah ku kotori udara yang terlampau hitam ini?
Baru kubisa nikmati sejuk angin pagi
Ini puisi bukan sembarang puisi ini puisi teruntuk bapak
berdasi

Komentar
Posting Komentar