kicau klausa

Sangat sulit menuturkan keheningan ini dalam kicauan klausa. Keheningan ini sejak kecil kurasa. Terkucil dalam keadaan "tak seharusnya". Aku lunglai mengikut jejak takdir. Seandainya bisa ku memilih aku tak mungkin ingin hidup dalam misteri nan menjerat. Aku benalu yang tumbuh dalam kesejahteraan rumah tangga sederhana. Merugikan! Siapa ingin hidup dalam posisi benalu. Andai benalu memilih, dia mungkin memilih mati! Ya, kalau aku harus mati, asal mereka bahagia, aku ikhlas. Sekian lama umurku ini berarti kerugian finansial. Andai aku punya tempat lain selain disini!
Hujan! Ah betapa romantisnya hujan kali ini, ia menutupi air mataku yang beruraian. Ketahuilah, sekarang aku berada di pinggir jalan. Sepi karna hujan yang menghujam deras. Entah mengapa hujan seolah menyambutku. Memelukku dalam air yang berciprat-ciprat. Celoteh hujan menasehatiku. Aku harus pulang katanya. Aku tak sanggup jika harus merugikan lagi. Menjadi racun dalam harmonisasi merdu. Aku hanya ingin ketenangan. Aku tak ingin rumah mewah dengan dayang dayang. REINKARNASI. aku ingin percaya reinkarnasi. Kelahiran kembali didunia. Aku ingin mati lalu hidup kembali dalam sosok damai nan tenang hidupnya.
Karna tak ada satupun orang yang ingin menjadi sendiri. Tapi kali ini aku benar-bensr sendiri. Berdiri dalam kegelapan. Dan tak ada satupun jejak selain tetes hujan. Aku kedinginan dalam gelap. Adakah orang yang ingin membawaku pulang? Tidak! Tidak ketempat itu lagi. Karna tak ada satupun orang yang ingin menjadi sendiri. Sekalipun itu dalam keramaian.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Menulis

Hari ke 40

Kesedihan