tanpa judul


untuk seorang wanita, titipan Rikonpriansyah
malam itu awal perkenalan kita mealui media sosial. kau begitu cuek dan angkuh. perbaris keluar dari chatmu. namun aku terus berusaha mengenalmu. ku akui aku tertarik,sosokmu. Putar. waktu terus berputar, kini kau mulai menerima hadirku, walau hanya teman. senyumku mengembang. berdebu jantungku, tak sia-sia selama ini usahaku. perjumpaan pertama kita. aku membawakanmu dua buah ice cream sederhana. hasil taruhan moto gp. memang terkesan bodoh, tapi aku senang karena pada akhirnya kau tertawa. setiap pagimu aku selalu ada di depan gangmu.dan siangmu aku selalu hadir di samping sekolaah tk mu. semula semua berjalan indah. tapi aku mulai merasakan kecanggungan dalam dirimu. seperti ada yang berbeda namun apa? di setiap perbincangan kita selalu terselip nama pria yang kau banggakan. soeolah kehadiranku tak kau hiraukan. andai hati ini bisa beicara tentang perasaanku yang sebenarnya. tapi apa daya, nyali seolah tak mendukung. dan kau begitu cepat berfikir kalau aku orang jahat, si pemberi harapan palsu. akhir-akhir ini kau menghilang. aku terus menunggu balasmu. tapi sepatah kata pun tak keluar dari chatmu. aku sadar. aku memang bukan terbaik dari yang terbaik. yang bisa menemanimu kemanpun kau mau. membawamu ketempat romantis. mengirimkan paket coklat,dan bunga beserta kata-kata menawan aku takkan mampu. tapi satu hal, aku bukan benalu yang membahagiakanmu dari harta orag tuaku.
dear kau
melalui coretan ini aku meluapkan perasaaanku yang sebenarnya. entah untuk berapa lama aku memendam perasaan ini. semoga kau membaca.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Menulis

Hari ke 40

Kesedihan