prosa kehidupan

Aku berada diterik malam yang menusuk, mendapati hampa dalam ruang, meratap tak ubahnya sang pendekar. pilu terkadang menghampiri. sejenak terdiam lalu pergi. manis begitu jarang kudapati. terkadang melintas namun tak menyapa. malamku hitam dan gelap. siangku kelabu bak mega mendung. peluang peluang peluang . tahu apa mereka tentang peluang hidupku. jalan-jalan sepi kutelusuri. aneh. tak ada lampu jalan yang benderang. rembulan menggantung menjadi sumber cahaya. apalah daya  bulan untuk menerangi hidup. aneh . kemana perginya semua kemerlip bintang. angin malam berhembus syahdu. menusuk hingga relung kalbu. termenung ku di ujung jalan. fikirku melayang bebas sebebas burung mengebas.  namun burung pun tahu kapan dan dimana dia harus kembali. tiba-tiba semua memutih. melenyapkan semua yang terperi. ramai namun sendiri. aku bangkit menelusuri jalan sepi. aneh. jalan ini tak lagi sepi. lampu jalan memang tak benderang. aneh. kemana perginya sang bulan. apakah dia sama seperti yang lain. mengacuhkanku . melecehkanku. bahkan burung pun tahu kapan dan dimana mereka harus kembali. tapi aku? apakah mereka masih menerimaku ? terdiam, dan membaca. mengapa kau hanya diam? apa kau sama seperti yang lain? yang terus mengacuhkanku?

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Menulis

Hari ke 40

Kesedihan