Tak ada yang adil dari penyamarataan.
Adil dan samarata itu
sangat jauh berbeda maknanya.
Kita mungkin tahu ini
sejak di bangku sekolah, tapi nyatanya sekolah saja tidak adil, mereka
menyamaratakan pendidikan dari timur sampai barat. Padahal, kemampuan siswa di
Jakarta jelas berbeda dengan siswa di Sulawesi, misal. Gue gak bilang di
Jakarta siswanya pintar, sedangkan di Sulawesi bodoh. Tidak begitu, pendidikan
tidak melulu pintar dan bodoh. Kebutuhan pendidikan di Jakarta jelas berbeda
dengan di Sulawesi.
Buat apa sih,
anak-anak dibebankan dengan soal-soal berapa jarak bumi ke matahari, padahal
memang tak ada orang yang pernah secara langsung mengukurnya. Kita terlalu
sibuk menghitung seberapa cepat jatuhnya apel jika berada di ketinggian 20 mdpl
blablabla, sedangkan hutan kita sedang digunduli habis-habisan.
Gue tambah miris
ketika tahu bahwa pendidikan adalah upaya untuk menyibukkan anak-anak suku,
sehingga tidak meneruskan budayanya. (its real).
Berarti gue gak usah sekolah dong ya ? Gak begitu juga! Jangan jadikan artikel gue
sebagai argumen agar lu tenang untuk bolos. Gue kecewa aja sama sistem
pendidikan Indonesia. Terus gue harus
gimana ? masa gue buang-buang waktu
untuk hal yang gak gue butuhin. Solusi yang paling tepat adalah mengganti
sistem sentralistik itu tadi, tapi itu kan kewenangan dari para pemangku
kebijakan. Biasanya muncul pemikiran bahwa pendidikan kita salah itu mulai di
kelas 3 SMP atau di masa SMA, kita merasa belum ada impact nyata dari
pendidikan, mulai bisa berfikir kenapa ya
gue capek-capek ngitung ini itu ? Pertanyaan tersebut bisa saja dari dasar
pemikiran kita sendiri, atau sebagai alasan biar kita gak usah belajar, nah
yang ini yang salah.
Saat kita tahu ada
yang salah di sistem pendidikan kita, saat itulah kita harus lebih fokus pada
cita-cita kita, lo mau jadi apa ? Pemain Sepak Bola ? Pelukis ? Arsitek ?
Apapun itu, wujudkan! Kalo gue mau jadi
penari berarti gue gak usah ngerjain MTK yak! No! Kejar apa yang lo suka, ikuti yang lain. Kalo
lo mau jadi penari, ikuti les nari, ikut eskul nari, selama sekolah, tentuin
target lo, udah harus punya piala lomba nari misal, tapi MTK lu ikutin, tetap
dipelajari, tapi karena MTK bukan prioritas hidup lu, pastinya nilai MTK gak
akan selincah gerakan tari lo.
Sekali-kali coba deh
liat sekeliling lo, apa yang rusak, apa yang benar-benar dibutuhkan di daerah
lo. Misal di Jawa Timur, banyak limbah B3, mencemari tanah dan air, wah berarti
di daerah itu lagi butuh orang yang bisa nanganin limbah B3, dan bisa
menetralkan air, agar bisa diminum lagi, nah pelajarin deh itu pelajaran kimia, kelak
setelah sarjana, balik ke daerah Jawa Timur, mengabdi di sana, dan berguna di
sana.Sehingga masalah di daerah Jawa timur bisa selesai dengan tidak memanggil orang dari luar daerah, bahkan dari luar negeri.
Percayalah, hidup itu
tentang bagaiman lo memandangnya.
Komentar
Posting Komentar