Tentang Ketidakpahaman



Sekarang-sekarang ini, ada yang sedang menggebu-gebu semangatnya untuk meningkatkan minat baca orang indonesia yang katanya kerdil. Aturan seperti baca 5 menit sebelum masuk ke mata pelajaran di sekolah, membuat perpustakaan daerah sebanyak-banyaknya, membangun perpustakaan tertinggi se Asia Tenggara. Mengadakan workshop, seminar dll yang ada kaitannya dengan dunia literasi.

Berhasilkah ? Menurutku tidak. Setelah menonton video Pandji tentang minat baca, aku terdiam lantas menggerutu sendiri ( iya juga ya ). Banyak di antara kita yang tidak tahu minatnya apa, sehingga tidak tau mau baca apa, tidak tertarik dengan pengetahuan, dan bahkan tidak tertarik untuk mengetahui sesuatu.

Dari video Pandji itu, aku mencari tahu lebih banyak lagi, ya Pandi benar lagi, setelah menonton videonya aku masih haus tentang dunia literasi.

Ketika si Bedu minat terhadap tehnik elektro, dia menonton video tentang tehnik elektro, membaca artikel yang pastinya tidak memuaskan rasa hausnya, maka toko buku lah yang ia tuju, meniti satu persatu buku yang berbaris di rak, dan tadaaa! Ia tidak mendapat apa yang ia cari, ia pulang dan kecewa, lesu letih dan masih haus.
Mengapa buku yang ia cari tidak ada ? Karena tak ada yang menulis tentang apa yang ia cari tahu. Mengapa tak ada yang menulis ?

Menulis buku ternyata sangat rumit, bukan hanya tentang mengetik alfaabet yang kau pikirkan susunanya, tapi juga tentang riset, waktu, dan banyak hal lagi, bisa baca tulisan Dee di sini : Memahami Profesi Penulis


Solusi paling hulu dari minat baca orang Indonesia yang kerdil adalah menjadikan para penulis sejahtera atau setidaknya membuat mereka tidak harus berpikir berkali-kali untuk menelurkan sebuah karya.
Aku sendiri baru tahu kalau dari harga sebuah buku di toko, penulis hanya memperoleh 10%  dari harga buku itu, itu pun masih harus melewati pajak yang sedang ramai dibicarakan beberapa hari lalu.

Jadi, menurutku, bukan lagi harus mencekoki anak dengan 5 menit baca, membuka perpus daerah sebanyak-banyaknya (lagi juga kebanyakan perpus daerah berisi buku yang tidak up to date atau jarang dicari) atau membangun gedung perpus setinggi-tingginya.

Solusi hilir yang menggelontorkan banyak biaya dan rawan korupsi ( negtaive thingkhing bgt wkwk) tadi, alangkah baiknya diperbaiki dari hulunya sebuah buku, siapa lagi kalau bukan penulis yang menuangkan ide setetes demi setetes, menjadikannya aksara satu-satu, hingga berlembar-lembar.
Mari Diskusi tentang permasalahan ini, temui aku di Kedai Jatam, terimakasih! Salam Literasi!

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Menulis

Hari ke 40

Kesedihan