AKU VS ( DAN ) KORUPSI
Pemimpin adalah cerminan rakyatnya.
Kata-kata
itu terus berputar di atas kepalaku, menyangkut di monitor komputer lalu hanya
diam di sana sampai aku sudah tidak menggubrisnya lagi.
Apa yang ada
di kepalamu ketika aku menyebutkan anggota MPR atau anggota DPR ?
1.
Bapak-bpak gendut berdasi
2.
Gedung hijau yang ada di senayan
3.
Korupsi
4.
Rapat kosong
5.
Gajinya gede segede janjinya
Sialnya kata korupsi nyaris selalu ada saat aku menyurvei
beberapa temanku. Bukan miris, kita sudah tau itu dari dulu kan ? Bahwasannya
korupsi memang nyata, sangat nyata bahkan melekat pada diri hampir setiap
orang. Mengapa aku yakin benar bahwa korupsi melekat pada diri hampir setiap orang ? karenaaaaaaaaa
Pemimpin adalah
cerminan rakyatnya.
Pagi ini aku Ujian Sekolah berbasis komputer, hanya ada 2
lab sementara ada 6 kelas yang harus ujian, jadilah ujian dibagi beberapa sesi.
2 minggu sebelum US adalah Ujian Praktek, bukan praktik namanya jika tidak
merepotkan. Bukan hanya murid, guru-guru pun repot untuk membuat skala nilai,
tapi aku suka, setidaknya inilah yang benar-benar nilai, ketika Ujian praktik
agama misal, aku mati-matian menghafal surat dalam juz-amma. Lalu ketika Ujian Praktik Seni Budaya, aku
harus membuat naskah sampai pagi, belum latihan dan sebagainya. Merepotkan. Tapi
inilah belajar, menemui masalah lalu menyelesaikannya. Tak ada jalan pintas,
hadapi atau mundur. Lain cerita dengan Ujian Sekolah berbasis komputer ini,
beberapa mata pelajaran benar-benar membingungkan, bingungnya adalah materi apa
yang harus dipelajari secara spesifik. Malam hari, grup Line kelas sibuk
menebar kisi-kisi soal yang didapat dari google, sebatas kisi-kisi yang kami tak
tahu apakah si guru membuat soal berdasarkan kisi-kisi yang sama. Kegaduhan
karena mencari kisi-kisi dan membuat soal berdasarkan kisi-kisi atau menjawab
contoh soal US yang ada di google pun berakhir sekitar pukul 11 malam. Pagi
harinya, kami mereview lagi jawaban dari tiap-tiap orang, dan ya akhirnya
bukannya merevew tapi kami malah mencatat, saling mencatat karena soal yang
kami dapat beraneka ragam, bahkan ada yang dari sekolah lain, segitunya mencari
kisi-kisi sampai harus ke sekolah lain.
Kebetulan, kelasku mendapat sesi pertama, jadi kami tidak
punya waktu lama-lama untuk saling bertukar jawaban. Ketika Ujian berlangsung,
menit pertama begitu hening, mungkin masing-masing kami memeriksa soal, apakah
ada yang sama dengan yang kami pelajari secara otodidak, haha otodidak. Dan ya,
kami beruntung, beberapa soal sama dengan yang kami pelajari, secarik kertas
pun dikeluarkan perlahan, ini sangat biasa terjadi, tiap ujian mensontek adalah
jalan pintas yang tidak pernah kadaluarsa, walapun kuno sekali.
Cara-cara mensotek seperti turun menurun diceritakan,
bagaimana triknya, bagaimana sikapnya, bagaimana agar tidak ketahuan.
Pertanyaannya kini, siapa yang menurunkan ? Adakah guru, atau orang tua yang
mengajarkan mensontek ? Setahuku orang tua ingin memiliki anak yang jujur,
begitupula guru yang sudah men-transferkan ilmunya.
Jawabannya adalah : Sistem.
Karena aku masih berstatus murid, jadi aku menggunakan kata
“kami” selain sebagai bentuk perwakilan, juga sebagai contoh nyata bahwa aku
berbicara apa yang aku alami dan yang aku
tahu, jadi aku tak menunjuk dan atau menyalahkan siapapun.
Ketika kami SD, rasa penasaran kami akan kehidupan masih
sangat tinggi, kenapa apel berwarna merah ? Langit berwarana biru ? Kenapa ada
bintang ? Apa rasanya tinggal di bulan ?
atau yang paling mendasar apa benar di bawah kolong tempat tidur ada monster
yang akan memakanku ketika aku tidak segera tidur ?
Kami berlomba-lomba mendapatkan nilai yang terbaik,
orang-orang di rumah pun mendorong kami agar terus belajar, lebih dari itu kami
didampingi belajar. Tapi, mungkin tak semuanya mendapat perlakuan yang sama,
beberapa siswa mungkin tidak didampingi belajar, atau orang tuanya
membiarkannya bermain game. Sampai ketika kenaikan kelas, ada yang memuncak ada
juga yang terperosok. Lalu yang di bawah akan mendapatkan ejekan dari yang
berada di peringkat atas, maklum, di mana ada kesenjangan di situ ada ejekan.
Kalaupun tidak mendapat ejekan, rasa malu itu muncul sendiri, rasa kecewa
karena kegagalan, belum lagi jika oran tua turut memarahi.
Selama 6 tahun, di sekolah ku waktu itu, aku masih ingat
benar, bahwa yang peringkat ya itu-itu saja, mungkin hanya naik atau turun 2
peringkat. Munculah julukan anak pintar dan anak bodoh, ralat tak ada anak
bodoh tapi adanya anak malas, (muak sih sebenarnya). Lalu insting ekonomi pun
terbentuk, yang pintar tak akan puas dengan peringkatnya, yang ranking 1 takut
tahtanya direbut orang, yang malas mencoba mencari jalan pintas, yang pintar
akan berkumpul dengan yang pintar, yang bodoh ralat malas merasa terasing dan
berkumpul dengan sesamanya.
Guru bisa jadi tau, atau mungkin juga tidak, tapi yang
jelas guru-guru selalu berkata “ tolong yang bisa, ajarin temannya yang tidak
bisa” lalu si malas akan bersorak “tuhh dengarr tuh!!” Dan si pintar pun ada
yang mengangguk ada juga yang tuli mendadak.
Tapi 6 tahun tanpa rasa solidaritas itu sangat kecil
kemungkinannya. Mulai dari solidaritas teman sebangku, (untuk wanita) kalau mau
ke kamar kecil pastilah teman sebangku mau menemani, (untuk lelaki) solidaritas
itu sudah membentuk sistem kerjasama dalam mencapai keinginan, keinginan untuk mengambil mangga milik Pak Somad.
Namun solidaritas itu tidak dimanfaatkan sebagaimana seharusnya,
alih-alih kebersamaan, justeru jalan pintaslah yang diambil, ketika si malas
sudah di cap atau mendapat cap dari lingkungan sosialnya “malas” , maka ia akan
benar-benar begitu. “Ah pelit lu ama temen” begitulah awalnya, lalu
sontek-mensotek pun menjadi hal yang sangat biasa.
Dan dari situlah cikal bakal korupsi di Indonesia yang
tidak ada habisnya.
Karena rakyatnya, sedari kecil ditanamkan sistem bobrok. Sistem
yang menuntut untuk berbuat curang, sistem yang meng-intimidasi keahlian-keahlian
di luar mata pelajaran.
Sebenarnya saat aku menulis tadi, yang aku bayangkan adalah
Si pintar : temanku yang pandai mtk, dan les privat
Si malas : temanku yang pandai bermain musik, dan olahraga,
(kebetulan laki-laki)
Kamu pasti bertanya di mana posisiku ? aku rasa kamu bisa
mengira-ira.
Apakah kamu menyadari bahwa kaum laki-laki banyak
ter-intimidasi dalam sistem sekolah ?
Coba lihat, lebih banyak mana, anak laki atau perempuan
yang masuk dalam kategori pintar ? – waktu aku bersekolah, kaum perempuan
mendominasi.
Aku rasa itu karena laki-laki memang punya jiwa sebagai
pemimpin, kaum laki-laki biasanya tidak mudah tunduk pada aturan dan lebih suka
mengerjakan apa yang dia suka, dalam kata lain sesungguhnha temanku yang dalam
bayanganku tadi mungkin tidak bodoh, tidak benar-benar malas, dia hanya tidak
tertarik apa yang ia pelajari, ia mempunyai minat yang lain, yang jika
dikembangkan bisa jadi itulah bakatnya dan juga sumber rezekinya, who knows ?
Dalam hal tauran sekalipun, ada aspek-aspek yang harus
dipelajari, strategi seperti jumlah pasukan, pilihan area tauran, benda
(senjata) apa saja yang akan dibawa, siapa lawan, karakter lawan, adakah dendam
kesumat, dan lain-lain. Lalu siapa saja yang akan ikut tauran, apakah si A
sudah layak, standar kelayakan itu
penting sekali, lalu siapakah yang akan memimpin, siapa yang di belakang,
samping kanan kiri, ke arah mana harus melarikan diri jika ada polisi atau
warga, di titik mana akan kembali berkumpul, sedetail itu. Dalam hal yang
dirasa sangat bodoh, bahkan banyak ruginya daripada untungnya, tauran punya
sistem yang sialnya lebih adil daripada kurikulum, solidaritas dalam hal tauran
tidak digunakan untuk kecurangan, tak ada jalan pintas, standar kelayakan itu
netral dan real, para pasukan punya keahlian masing-masing yang bisa
ditonjolkan tanpa merasa ter-intimidasi, bahkan proses belajar mengajar
dilakukan atas dasar rasa ingin tahu, bukan paksaan standar kelayakan (nilai),
guru dalam hal tauran adalah senior, dan senior mendapat impact berupa rasa
bangga, dan biasanya senioritas sangat sah di sini. Toh nantinya si junior juga
akan menjadi senior. Jika A hanya boleh membawa batu, dia tidak akan iri pada B
yang membawa celurit, dia tau bahwa B sering belajar (nongkrong) dengan pasukan
senior.
Sungguh, aku berkaca-kaca menuliskan ini, betapa tauran
ternyata punya sistem yang lebih adil daripada sistem kurikulum, apapun namanya,
KTSP kah atau 2013, sama saja. Pantas saja temanku banyak yang ikut tauran,
dulu aku selalu mengoceh jika temanku akhirnya masuk ke kelas setelah
kemarinnya ikut tauran.
“Pantesan pemimpin
kita banyak yang korupsi, orang dari bawahnya aja begini, pemimpin itukan
cerminan rakyatnya” Kira-kira begitulah kata guruku ketika kami sedang
asyik mensontek, kira-kira seperti itu, bisa kurang bisa juga lebih panjang,
tapi intinya seperti itu.
Aku lalu
terdiam, kata-kata itu terus berputar di atas kepalaku, menyangkut di monitor
komputer lalu hanya diam di sana sampai aku sudah tidak menggubrisnya lagi, saat
itu, pelajaran yang sedang di ujikan sudah tidak aku pelajari sejak kelas XI, tapi
kami sempat diberi fotokopi soal, walaupun tidak serta merta membuat kami bisa
mengerjakannya.
Aku lalu
tetap mensontek, sungguh, ketika sebelumnya aku sangat-sangat berusaha untuk
tidak lagi mensontek, dalam pelajaran apapun, dan nilaikupun tidak jauh dari
angka 6 dan 7, semenatara teman-temanku santai dengan nilai 8 -9. Aku harus
remedial, dan itu membuatku ketinggalan pelajaran, saat yang lain lulus dan
melaju ke pembelajaran berikutnya, aku masih harus berjibaku dengan remedial,
mengingat-ingat soal dan jawabanya yang benar. Dan karena aku ketinggalan
pelajaran, dalam ulangan selanjutnya aku kembali harus remedial, dan ya begitu
saja terus, - on repeat. Sial memang J.
Aku akhirnya
menyerah, kembali dengan kebiasaan men-sontek yang jelas-jelas dilarang agama
apapun, mensontek memang bukan perkara agama, nyatanya temanku yang terkenal
solehah pun masih mensontek, begitupun temanku umat crishtiani yang selalu
hadir dalam kebaktian. Mensontek adalah sistem yang terpelihara.
Aku jadi
serba salah, aku buru-buru menyudahi pekerjaanku, menekan mouse di sembarang
a,b,c,atau d, lalu tekan submit dan nilaiku 66. Aku lalu log-out dan keluar
dari lab, berjalan menuju lorong dan terhenti di bangku panjang. Aku lalu
menerawang kemana-mana dan akhirnya menulis ini.
Aku benar-benar
tidak tahan, tapi aku sudah masuk dalam sistem bobrok ini. Aku sering
menghardik mereka yang masuk berita telah melenyapkan uang rakyat sejumlah
sekian triliun lalu akan dipenjara selama 15 tahun dan dalam kenyataannya
keluar dalam kurun waktu yang lebih cepat 2 kali lipat.
Apalagi aku
pernah membaca sebuah headine, “anggota
*** sering korupsi, Pak *** sarankan, naikkan tunjangan” atau “ Anggota *** sering korupsi, *** : Mungkin
tunjangannya kurang”. Ingin sekali berkata kasar.
Aku jadi
merasa bersalah, karena masuk dalam sistem yang telah menyuburkan korupsi di
Indonesia, masalahnya, korupsi bukan hanya soal uang yang lenyap, tapi juga
sistem yang membuat saudaraku di seluruh Indonesia, merasakan ketidakadilan. Tak
usah jauh-jauh, menyebaranglah sedikit ke pulau Pari, Kepulauan seribu,
penduduk di sana segera terusir dari rumahnya karena secara tiba-tiba ada
perusahaan yang menklaim tanah mereka. Perusahaan itu sudah pasti melihat kecantikan
pulau pari, lalu tertarik dan ya kau mungkin bisa berburuk sangka sesudahnya.
Atau kalau
kamu menolak berburuk sangka, kasus E-KTP yang sedang ramai, yang headlinenya Mega-Proyek-Korupsi, melenyapkan sekian
triliun, bisa jadi momok yang sama sekali tidak menakutkan, tapi membuat aku
lemas, aku turut menyumbang tenaga menyuburkan sistem ini.
Para Sarjana
yang memebentuk amdal dengan sangat rinci, dibuat sebisa mungkin menutupi
keborokan proyek, agar sah dan bisa berjalan di lapangan. Tentulah buah dari
sistem yang selama ini dipelihara. Barter kebijakan dengan proyek pun mudah
saja dilakukan. Sangat biasa, seperti kegiatan mensontek yang juga sangat
biasa.
Maka saat
ada berita bertemakan korupsi atau calon korupsi, atau calon proyek, aku harus
berkaca pada diriku sendiri, harusnya ini berlaku juga kepada setiap orang yang
berteriak atas nama keadilan, kepada setiap orang yang membenci korupsi, apapun
wujudnya, dan harusnya setiap hari anti korupsi, menyerukan juga anti mensontek,
lebih dari itu, kita harus keluar dalam sistem ini, sistem yang membuat setiap
orang yang ingin berhenti mensontek menyerah, sistem yang membuat urutan
berdasarkan angka, mereduksi bakat, dan sarat dengan ketidakadilan juga
intimidasi.
Ada banyak
yang menyuarakan anti korupsi, menyuarakan keadilan untuk lingkungan,dan banyak lagi, tapi jika masih dalam sistem
yang aku ceritakan tadi, maka itu tak merubah apa-apa, sama seperti berteriak
perubahan dengan mata tertutup.
Sebenarnya segawat itukah sistem pendidikan
kita ? aku rasa ya, sangat gawat
bahkan, kau tahu hobby para pemerintah ? Membuat kebijakan yang cepat, sehingga
selesai pada masa jabatannya (menimbulkan seolah-olah inilah peninggalan masa
jabatannya) dan tidak memikirkan itu solusi yang benar atau bukan. Butuh contoh
? KJP, menurutku ini kesalahan yang fatal, walaupun aku turut menikmatinya,
tapi semoga aku memanfaatkan ini dengan benar, bayangkan, anak umur 17 tahun
dengan budaya hedon dan konsumtif gila-gilaan diberikan uang 200 rb setiap
bulan, padahal tas sekolah, baju sekolah, dan
sepatu sekolah tidak akan rusak setiap bulan, kenapa uangnya tidak ditabung ? Nah, harusnya pemerintah melihat
dulu apakah kebiasaan menabung sudah tertanam ? ini sama saja memberi buku pada
orang buta aksara, dia hanya akan melihat-lihat gambar, atau kalau tak ada
gambarnya mungkin akan dirobek. Alih-alih membuat semangat siswa, KJP
memberikan budaya konsumtif, belanja di ritel besar dan membeli tas ber-merk, kenapa
pemerintah tidak menggunakan anggarannya untuk membiayai pabrik tas lokal
sehingga kualitasnya baik dan bisa bersaing setidaknya di dalam negerinya
sendiri, lalu membelinya lagi untuk dibagikan kepada siswa ? Akan lebih bijak
bukan ?
Sayangnya
kebijakan semacam ini membutuhkan waktu yang lama, dan kurang meninggalkan
kesan kepada masyarakat. Ini secara tegas mensiratkan hasil sistem pendidikan
kita, yang hanya mengejar nilai ( dalam hal ini adalah penilaian masyarakat)
dan cenderung mengambil jalan pintas.
Sangat terang
dan jelas.
Namun, jika
ada seorang yang akan menghapuskan KJP pastilah menuai banyak protes dari
masyarakat yang sudah terlanjur masuk dalam sistem bobroknya pendidikan dan
juga konsmtif yang kian menggila. Segala argumen akan dikeluarkan, ya, seperti
siswa yang sudah nyaman mensontek, akan sangat panik jika ada ujian lisan dan
menggumam pada guru yang bersangkutan.
KJP yang
saat ini tidak bisa dicairkan saja sudah sedemikian merusaknya.
Apakah semua pemimpin sama saja, melakukan
korupsi ? Jawabannya sama dengan
kondisi kelas, jika dikelasmu masih ada satu anak saja yang tidak mensontek,
maka bisa jadi diantara pemimpin kita masih ada yang tidak korupsi.
Aku akan
bercerita tentang Kei, Kei adalah temanku (hanya sekedar kenal sih) tapi dia
berbeda kelas, saat aku mendapat nilai 6 dia mendapat nilai 3, dia sangat
pendiam,(lagi) sangat pendiam, aneh, gaya bicaranya datar bahkan dengan guru
dan asesor, tidak mempunyai teman, jarang ke kantin, dia bilang punya pacar di Turki,
tapi siapa percaya ? dan siapa peduli ? tapi dia menolak untuk mensontek, dan
itu berarti dia juga menolak sistem bobrok ini.
Aku jadi
membayangkan kondisi pemerintahan kita, mungkin akan dibilang aneh, jika salah
satu dari mereka tidak korupsi, mungkin juga pertama-tama mereka mengatakan “ah
pelit lu sama temen sendiri” tak peduli itu dari partai yang mana, lalu sistem
yang sama bobroknya juga terpelihara pada tingkat pemerintahan. Bedanya, mereka
adalah buah dari sistem pendidikan yang sudah bobrok, mereka sudah tau cara
mensontek yang benar, bagaimana agar tidak ketahuan, dan mereka mempraktikannya
lagi, dengan lebih sempurna. Sama saja seperti mensontek, ada yang menjiplaknya
semirip mungkin, dan dapat nilai 100, ada yang segaja menyalahkan jawabannya 1 atau 2 agar tidak mencolok, dan hasilnya dapat 8. Begitulah kenapa data korupsi
setiap tersangka berbeda-beda. Ada juga yang sial, yang duduknya tepat di depan
guru, dan peluang mensonteknya kecil sekali, akhirnya dia mendapat 5.
Aku rasa ini
cukup, aku mungkin akan memposting ini di blog, mungkin juga akan
mengirimkannya sebagai surat untuk siapapun yang menyuarakan keadilan, dan
membenci korupsi apapun bentuknya. Saatnya kita menyalahkan diri kita sendiri,
dan membunuh sistem yang selama ini kita pelihara, karena pada dasarnya sistem
adalah buatan manusia, dia bisa dihentikan, tapi sistem ibarat bola raksasa
yang terus melucur, satu dua orang yang mencoba menghentikan malah akan
terlindas, butuh kekuatan banyak pihak, banyak orang, butuh lebih banyak
orang yang mau bertindak dan mengecilkan
volume suaranya. Jangan sampai ada yang menyerah lagi.
-Unknown.
Komentar
Posting Komentar