moccacino hangat ternikmat

Ingatanku terlempar. Masih jelas di lidahku, moccacino hangat ternikmat yang pernah kuteguk. Tik tik tik. Jarum jam ku berdetik pelan. Mengisi sela sela sepi cafe redup ini. Ku hirup wangi asap yang keluar dari cangkirku. Ku pegang erat demi rasa hangat. Begitu tenangnya hati. Ketikan ku terdiam. Ku tengok ke luar,memastikan hadirnya dirimu. Namun hanya parkiran sepi kudapat. Mataku kembali tertuju pada layar. Seketika aku terhanyut pada alur plot buatanku. Ku lirikkan bola mataku, tertangkap samar bayangmu bersama beberapa orang lain. Jantungku berdetak acak. Masih teringat jelas, secangkir moccacino itu terasa berkali kali lipat lebih nikmat. Senyumku mengembang,mataku terpejam, ku resapi setiap hembusan cangkir ini.
Karna kau yang selalu spesial walau kau tidak akan tahu.
Lirikkan ku perlahan menangkap canda tawamu bersama sahabatmu. Ku pandang wajahmu dengan berhati-hati. Sesekali aku kembali menunduk. Cangkir ini mulai dingin,tapi tetap nikmat. Hina ini mengikatku, memaksaku terus menatap wajahmu. Seakan kesempatan emas yang sulit didapat. Rugi bila disia siakan. Aku menghardik angka! Ketika angka di jamku harus menunjukkan waktu yang cukup larut. Mengharuskan aku kembali,dan meninggalkanmu yang masih disana bersama sahabat dan tawa ramahmu. Kurapihkan bawaanku. Memastikan tak ada yang tertinggal. Tentunya dengan muka yang berpaling darimu.

 Kuteguk lagi sedikit,kulirik roti bakar yang belum kusentuh. Ku fikir aku membutuhkan pelengkap. Ternyata moccacino hangat itu adalah Kenikmatan sesungguhnya. Cukuplah kamu dan tawamu sebagai pelengkap bahkan penambah cita rasanya. Senyum begitu mengembang saat aku tuliskan kata kata manis ini. Tersirat kenangan manis dimalam itu, walau kau takkan pernah merasakan hadirku disana. Cukuplah aku memandangmu. Seperti bintang, kau bergemerlap dari kejauhan. Dan apalah dayaku untuk mendekatimu. Disepanjang jalan malam sepi itu, aku masih membayangkan indahnya wajahmu dikemuningnya lampu cafe. Menikmati moccacino yang kentalnya masih terasa dimulut. Entah sampai kapan kau masih menempati singgasana rahasia hati. Menemani kesendirian ku, mewarnai hari ku dengan tanpa sepengetahuanmu.
Aku wanita pemalu yang menikamti dirimu dalam jarak yang membunuh. Menyimpan namamu sedalam dalamnya kalbu. Agar tak ada yang tahu. Termangu dalam mematung. Akulah yang selalu tersenyum disetiap derumu. Bertepuk tangan sekeras mungkin walau tak ada yang tahu. Melihatmu tersenyum bersama wanita ayu khas seleramu. Bahagiakan lah ayumu itu. Dan wahai ayu yang namanya tak ku tahu. Bahagiakanlah dia,raja di singgasana hatiku. Betapa beruntunya dirimu,dapat menikmati tawanya dari kehangatan waktu. Bercengkrama tanpa jarak yang menggangu.
Karna jika cinta maka ungkapkanlah!
Setidaknya,aku sudah mengungkapkan rasa itu disini walau tanpa nama dan alamat tertuju. Sekedar mereda gejolak hati. Untuk kau sang pembaca, nyatakanlah! Nyatakan,bukan tanyakan. Nyatakan kepadanya kalau dia begitu spesial dihati,nyatakan tanpa perlu bertanya.Tak peduli gender,usia,atau apapun. Kau hanya perlu menyatakan,tak bertanya. Nyatakan sebelum akhirnya jarak akan membunuhmu perlahan. Membiarkan rasa itu menggerogoti badanmu. Perlahan lahan namun pasti. Kau akan sakit! Dan tak ada obat selain menyatakan. Sakit itu akan terus menyiksamu. Memaksamu menyatakan dan kau tetap menolak. Kau biarkan rasa itu membunuhmu perlahan. Memastikan kau terbudak rasa rindu tak berujung. Sebelum akhirnya kau mati. Matinya rasa itu,akan menimbulkan bencana. Sulit menumbuhkan rasa serupa. Hingga kau terpenjara dalam belenggu sepi. Termakan ketakutan pada ketidakpastian. Nyatakanlah sebelum akhirnya kau bernasip sama sepertiku.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Menulis

Hari ke 40

Kesedihan